Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Nahrawi Abdussalam, Ulama Syafi’iyah Berkaliber Dunia asal Indonesia


Siapa yang tidak mengenal Dr. KH Ahmad Nahrawi Abdussalam? Ulama Syafi’iyah Internasional berpemikiran wasathiyah (moderat) dari Indonesia yang karya-karyanya kerap menjadi rujukan nasional maupun internasional.

Kisah-kisah perjalanan inspiratifnya dapat dijadikan motivasi bagi kita dalam menggapai cita-cita, teruma bagi kalangan pelajar di luar negeri untuk lebih semangat dalam menjalankan studinya.

Kiprah Nahrawi Abdussalam dibedah pada seri diskusi Islam Nusantara Center (INC) di Wisma UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (17/2), Amirah Nahrawi mengisahkan perjalanan gigih ayahandanya untuk dapat belajar di Al Azhar, Kairo. Dari mulai berdagang minyak kelapa hingga menjadi seorang penyiar radio.

Namun hal tersebut bukanlah semata karena urusan duniawi yang menjadi substansi dari kerja kerasnya. “Sejak kecil, ayah saya tidak diizinkan untuk sekolah di sekolahan Belanda, sehingga ia menempuh pendidikan hingga SLTA di Jamiatul Khair, Tanah Abang,” kata Amirah memulai kisah ayahnya.

Nahrawi kecil adalah sosok yang pandai, sehingga ia sering melompat dalam jenjang pendidikannya. Namun setelah lulus, berbagai kendala menghampiri sehingga keinginannya untuk kuliah pun tertunda.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk belajar dan bergaul dengan orang-orang di daerah maupun luar daerahnya dan bekerja sebagai penjual minyak kelapa yang mana pada saat itu penghasilannya mampu mencukupi kebutuhan selama setahun.

“Menjadi pengusaha yang sukses, tidak menjadikannya lepas begitu saja, bergaul dengan orang begitu saja, ia selalu membimbing rekan-rekannya dengan jalan yang benar sehingga ia mempunyai banyak relasi dari kota maupun luar kota,” papar anak sulung Nahrawi Abdussalam ini. 

Kesuksesan tak pernah menghilangkan keinginan untuk tetap kuliah di universitas impiannya, yakni Al Azhar Kairo. Hingga suatu ketika ia diajak oleh ibunya untuk berangkat haji dan memutuskan untuk tetap tinggal di Saudi Arab menunggu informasi pendaftaran di Al Azhar dan meninggalkan begitu saja usaha minyak kelapanya yang sukses.

Membentuk ikatan pelajar di Saudi

Di Saudi ia bertemu dengan orang-orang yang disebut sebagai ’santri’ yang kemudin menjadi kawan karib maupun kawan intelektualnya. 

“Namun ada satu hal ciri pelajar di sana, mereka sangat kesantri-santrian dan banyak dari mereka yang baru paham, sedikit keras,” lanjutnya.

Sehingga Nahrawi pun berusaha membentuk ikatan pelajar Indonesia yang bertujuan untuk membantu pelajar di Saudi untuk lebih terbuka dan lebih memahami ilmu, yang diam jadi pembicara,yang tidak pandai berpidato jadi pandai berpidato, yang beraliran keras menjadi lunak, dan yang lunak menjadi netral.

“Namun pada saat itutidak ada yang boleh membentuk ikatan apapun di Saudi,” terangnya.

Atas kepandaian Nahrawi dalam bergaul, ia mendapat bantuan oleh seorang angkatan bersenjata Saudi Arabia, Syeikh Abdul Jalil dalam pembentukan ikatan pelajar tersebut. Maka terbentuklah Ikatan Pelajar Indonesia Hijaz (IPIH).

“Di IPIH tujuan dan pola pendidikannya sangat menusantara, ia menerapkan konsep-konsep wasathiyah, sehingga semakin tahun anggotanya semakin bertambah,” jelasnya.

Sebagai pengembara, ia harus hidup mandiri. Di samping belajar, ia pun bekerja. Meski saat itu di Saudi sudah berdiri universitas yang mumpuni seperti Darul Ulum, Al Falah, dan lain-lainnya. 

Namun keinginan untuk belajar di Al Azhar tetap kuat. Dalam penantiannya itu, ia gunakan waktunya di Saudi untuk menghapal Al Qur’an yang selama dua bulan sepuluh hari sudah rampung dikhatamkan. 

“Setiap jam 12 malam ayah saya selalu belajar di bawah Hijr Ismail, di situ ia mampu menghabiskan 8 juz dalam sehari untuk menghafalkan,” terangnya.

Dua tahun di Saudi akhirnya ia dipertemukan dengan staff dari kedutaan Mesir yang kemudian menjadi jalan informasi bagi dirinya untuk dapat masuk ke Universitas Al Azhar.

Kuliah dan penyiar radio

Sesampai di Mesir Nahrawi diuji, karena tidak memiliki ijazah persamaan dari Jamiatul Khair. Dalam ujian tersebut ia dinyatakan lulus tanpa harus perbaikan. Untuk pertama kalinya ia menduduki bangku kuliah yang diimpikan yakni jurusan Syari’ah.

Pertama tinggal di Mesir, ia sempat mengalami perampokan sehingga seluruh kekayaannya hilang, namun setelah itu ia mendapat beberapa tawaran pekerjaan yang gajinya cukup tinggi, di antaranya adalah sebagai pengajar dan penyiar radio (1952-1970).

“Rutinitas ayah saat itu sangat padat, mulai pukul enam pagi berangkat ke Al Azhar kemudian langsung ke ‘Ainus Syams sebagai dosen, lalu ke radio sebagai penerjemah dan merencanakan tiap-tiap episode untuk siaran Indonesia, lalu pulang pada sore hari dan kembali lagi ke Al Azhar setelah isya’, jadi meskipun uangnya banyak tapi, ia sangat sibuk,” terang anaknya panjang lebar.

Atas semangatnya itu ia berhasil memperoleh gelar Lc (Syariah) pada tahun 1955/1956, dua tahun kemudian MA pada jurusan yang sama, dua tahun kemudian ia meneruskan pada jurusan Kehakiman dan mendapat gelar MA yang kedua, dan MA yang ketiga dalam jurusan Perbandingan Madzhab, dan MA yang ke empat pada jurusan bahasa diperoleh dari Akademi Tinggi Liga Arab, Kairo. 

Setelah lulus ia sempat pindah ke Damshkus dan kembali lagi ke Saudi sebagai penyiar dan penerjemah di radio Saudi Arabia. 

“Sebelum kembali ke Saudi, ayah saya menikahi seorang gadis cantik, mama saya,” jelasnya.

Kembali ke Saudi Arabia

Ketika di Saudi, Nahrawi hidup bahagia dengan keluarganya bahkan dikaruniai tiga anak. Namun dalam benaknya terbesit keinginan untuk kembali ke Tanah Air.

“Mengapa ingin kembali ke Indonesia? Karena saya ingin mati dan dikuburkan di tanah kelahiran saya,” kata Amirah mengutip dari ayahnya.

Sambil mempersiapkan segalanya untuk kembali, waktu luangnya di Saudi ia gunakan untuk belajar qiroat dengan salah satu ulama Al Azhar. Kepadanya ia membuat metode yang mudah, yang pada saat itu gurunya sangat  terkesan dengan metode yang ia buat. Dan metodenya pun dicetak dan digunakan sebagai metode pembelajaran di Al Azhar.

Selain itu ia juga mengembangkan hasil disertasinya yang membahas tentang aliran syafi’iyah untuk dijadikan buku, karena banyak pihak yang menginginkannya. 

“Saat bukunya dicetak, percetakanya tidak mau menggunakan nama Al Indunisiy (Indonesia) di belakang namanya, sebab ditakutkan peminatnya berkurang,” katanya.

Namun Nahrawi tetap kukuh untuk menggunakan nama Indonesia, urusan terjual atau tidaknya yang terpenting nama negaranya bisa naik. Saking cintanya pada Indonesia, ia bahkan tidak memikirkan nama kelokalan, seperti Al Banjari, Al Batawi, dan lain-lain.

Pada cetakan pertama (1989) terjual habis kurang dari dua bulan, dan ketika ingin mencetak kembali untuk yang kedua, rumah yang akan disinggahi di Indonesia sudah siap sehingga ia harus pulang ke Indonesia (1990). 

Sebelum wafat (1999), Selama 9 tahun di Indonesia, waktunya ia habiskan untuk mengabdi pada masyarakat seperti membuka majelis, mengajar di perguruan tinggi serta turut aktif dalam organisasi masyarakat seperti PBNU di mana saat itu ia berkiprah sebagai Anggota Syuriyah PBNU.

Selain mengabdi pada organisasi kemasyarakatan, ia juga menjadi Dewan Fatwa Ulama Indonesia Pusat serta aktif dalam dunia perpolitikan.

TGH Shaleh Hambali, Jimat NU di Pulau Lombok


Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mempunyai luas sekitar 4.725 kilometer persegi menjadi wilayah dakwah Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Shaleh Hambali (1896-1968). Ulama kharismatik dari Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, NTB ini merupakan Rais Syuriyah pertama PWNU NTB.

Dakwah untuk menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang dilakukannya di Pulau Lombok tidaklah mudah mengingat tantangan saat itu kerap membahayakan jiwa dan raganya bahkan mengancam kehidupan masyarakat. Seperti dakwah yang dilakukan ketika pemberontakan PKI juga terjadi di Lombok.

Ulama yang juga dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bengkel ini menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat. Mereka merasa terancam dengan gerakan PKI yang tidak segan melakukan kekerasan kepada masyarakat saat itu. Kemudian, TGH Shaleh Hambali yang dikenal sebagai ulama istimewa yang banyak memiliki karomah menurut warga sekitar dijadikan tempat mengadu dan meminta nasihat.

Masyarakat berduyun-duyun mendatangi kediaman Tuan Guru Bengkel yang saat itu sudah mendirikan Pondok Pesantren Darul Qur’an. Mereka meminta bimbingan Tuan Guru Bengkel untuk menghadapi ancaman yang dilakukan para oknum PKI yang membahayakan jiwanya.

Selain memberikan sejumlah wirid dan doa, TGH Shaleh Hambali juga memberikan perhatian kepada seluruh masyarakat agar mereka menancapkan bendera Nahdlatul Ulama (NU) di depan rumahnya masing-masing. Tuan Guru Bengkel menjamin keamanan masyarakat dengan bendera NU tersebut.

Cerita tersebut diriwayatkan oleh Cucu TGH Shaleh Hambali, TGH Halisussabri. NU Online berkesempatan menemui Tuan Guru Halisussabri di Pondok Pesantren Darul Qur’an di tengah perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU pada 23-25 November 2017 di NTB.

“Saat itu masyarakat ramai-ramai mencancapkan bendera NU. Masing-masing mereka melukis sendiri lambang NU dengan cara disemprot,” ujar TGH Halisussabri.

Bagi masyarakat Lombok, Tuan Guru Bengkel selama ini mampu mengayomi masyarakat dengan karomah dan keistimewaannya. Oleh sebab itu, ulama yang lahir pada 7 Ramadhan 1313 ini dijadikan semacam jimat perlindungan dari keaganasan PKI.

Bukan hanya pada ilmu keagamaan, kesaktiannya juga juga diakui ketika para tokoh nasional juga kerap berkunjung kepadanya untuk meminta nasihat saat Indonesia dalam kondisi terjajah. Tokoh-tokoh NU seperti KH Wahab Chasbullah, KH Saifuddin Zuhri, Subhan ZE, dan lain-lain pernah menyambangi kediaman Tuan Guru Bengkel.

Begitu juga Presiden Seokarno. Ia pernah mendatangi Tuan Guru Bengkel pada 1953. Kedatangannya itu juga disambut antusias masyarakat Desa Bengkel. Soekarno dengan gaya khasnya memberikan orasi di tengah-tengah masyarakat Bengkel saat itu. Dokumentasi tersebut terpampang jelas di ruang galeri Pesantren Darul Qur’an.

Saat ini, TGH Shaleh Hambali bisa dikatakan sebagai patok utama ulama yang berjasa menyebarkan NU dan Aswaja di tanah Nusa Tenggara Barat. Ia mempunyai optimisme tinggi ketika jam’iyah NU memiliki visi mendakwahkan Islam dengan sebenar-benarnya dan sebaiknya-baiknya serta memperkuat wawasan kebangsaan dan jiwa nasionalisme di dada bangsa Indonesia.

Saat ini, ulama yang mangkat pada Sabtu, 15 Jumadil Akhir bertepatan dengan tanggal 7 September 1968 itu dimakamkan di depan Masjid Jami’ Shaleh Hambali di Bengkel. Masjid ini terletak sekitar 200 meter dari Pondok Pesantren Darul Qur’an di Jalan TGH Shaleh Hambali. Saat ini pesantren dipimpin oleh sang cucu, TGH Halisussabri itu memiliki santri sekitar 1500 orang yang berasal dari berbagai daerah seperti Bali dan Sumbawa. Juga mengembangkan sejumlah lembaga sosial, seperti panti asuhan anak yatim.

Riwayat Tuan Guru Bengkel

Nama kecilnya adalah Muhammad Shaleh, sedangkan Hambali dibelakang nama tersebut adalah dinisbatkan kepada nama ayahnya yang bernama Hambali. Dia adalah putra bungsu dari delapan bersaudara, yaitu Abu, Fatimah, Amsiah, Rukiyah, Selamin, Syamsiyah, Khadijah, dan Muhammad Shaleh. Beliau adalah putra dari pasangan Hambali dan Halimah (alias Inaq Fatimah). 

Dia dilahirkan hampir mirip dengan kelahiran Rasulullah SAW, artinya ketika masih dalam kandungan berumur 6 bulan ayahnya dipanggil menghadap oleh Yang Maha Kuasa (meninggal dunia), dan ketika dia telah lahir dan telah berumur 6 bulan, dia ditinggal oleh ibundanya tercinta menyusul ayahnya (meninggal dunia). Maka ketika itu jadilah dia anak yatim piatu yang tidak mempunyai ayah dan ibu. Kemudian ia diambil dan diasuh oleh pamannya yang bernama H Abdullah (alias Bapak Rajab).

Menurut informasi yang dihimpun NU Online, Muhammad Shaleh dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang religius dan taat menjalankan agama. Orang tua dia adalah warga biasa yang memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi pada syiar Islam di kampungnya, sekalipun bapaknya bukan seorang kiai (Tuan Guru). Tetapi ia dikenal sebagai orang yang memiliki ghirah keislaman yang tinggi dan dikenal sebagai khadam kiai.

Tuan Guru Haji Muhammad Shaleh Hambali mulai belajar mengaji pada usia 7 tahun. Dia belajar agama secara teratur kepada seorang guru Al-Qur’an yang ahli tajwid bernama Ramli alias Guru Sumbawa di Desa kelahirannya Bengkel. Ini merupakan langkah awal dari pola umum pendidikan Islam tradisional. Anak-anak seusianya kala itu mulai diajarkan membaca ejaan Arab.

Seusai belajar pada Ramli, 5 tahun lamanya, TGH Shaleh Hambali melanjutkan pendidikan ke Mekkah selama lebih kurang 9 tahun, yakni pada tahun 1912 hingga 1921. Ia juga menuntut ilmu agama kepada sejumlah ulama, baik fiqih, tafsir, tasawuf, dan ilmu-ilmu agama yang lain. Keberangkatan dia ke tanah suci Mekkah juga bersama ibu angkatnya (Inaq Rajab-istri H Abdullah) sampai ibu angkatnya meninggal dunia di Mekkah pada bulan haji. 

Selama menuntut ilmu di Mekkah, dia banyak belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, diantaranya adalah: Syekh Said al-Yamani, Syekh Hasan bin Syekh Said al-Yamani, Syekh Alawi Maliki al-Makki, Syekh Hamdan al-Maghrabi, Syekh Abdusstar Hindi, Syekh Said al-Hadrawi Makki, Syekh Muhammad Arsyad, Syekh Shaleh Bafadhol, Syekh Ali Umairah al-Fayumi al-Mishra.

Selain kepada ulama-ulama di atas, dia juga belajar kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di tanah suci, antara lain, TGH Umar (Sumbawa), TGH Muhammad Irsyad (Sumbawa), TGH Haji Utsman (Serawak), KH Muchtar (Bogor), KH Misbah (Banten), TGH Abdul Ghani (Jemberana-Bali), TGH Abdurrahman (Jemberana-Bali), TGH Utsman (Pontianak), TGH Umar (Kelayu-Lombok), TGH Abdul Hamid (Pagutan-Lombok), TGH Asy’ari (Sekarbela-Lombok), dan TGH Yahya (Jerowaru-Lombok).

Kitab-kitab tasawuf yang banyak dipelajari oleh Tuan Guru Bengkel pada guru-gurunya adalah kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Ghazali seperti: Minhajul Abidin, Bidayatul Hidayah, dan Ihya’ Ulumuddin. Lalu, kitab Kifayatul Atqiya’ karangan Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syata al-Dimyathi yang merupakan komentar dari Kifayatul Atqiya’ ila Thariqatul Awliya’ karya Zainuddin al-Malibary. Kemudian kitab Hidayatus Salikin dan Sairus Salikin karya Syekh Abdus Shomad Al-Palimbani dalam bahasa melayu.

Bagi Tuan Guru Bengkel, dakwah jangan hanya berupa ceramah dan kata-kata, tetapi juga karya. Dakwah akan abadi jika menuliskannya dalam bentuk karya. Tercatat, TGH Shaleh Hambali mempunyai 17 karya kitab.

Saat ini, keberadaan 17 kitab dan manuskrip karya Tuan Guru Bangkel ditashih oleh seorang nazir atau pemangku, Baehaqi Syakbani bin TGH Muhammad Zain Masbagik. Adapun 17 kitab karya Tuan Guru Bengkel sebagai berikut:

1. Luqhtatul Jawharati fi Bayanil Ghina Iwalmutaqqirati (selesai ditulis Jumat, 13 Januari 1933).
2. Permaiduri (1969)
3. Ilmu Mantiq (1969)
4. Hidyatul Atfali fi Tajwidi Kalam Ilahil Muta’ali (1934)
5. Ta’limus Shibyani bi Gahyatil Bayani (1935)
6. Washiyyatul Mustafa Li Ali Al-Murtadha (1937)
7. Al-Mawa Izus Shalihiyyati Fil Ahaditsin Nabawiyyati (1945)
8. Manzharul Amradi fi Bayani Qith A’thin Minal I’tiqadi ( editor, 1949)
9. Intan Berlian (Perhiasan) Laki Perempuan (1951)
10. Risalah Kecil Pada Menyatakan Thawaf Perempuan yang Haid atau Nifas (1954)
11. Jamuan Tersaji pada Manasik Haji (1952)
12. Cempaka Mulia Perhiasan Manusia (1956)
13. Bintang Perniagaan pada Kelebihan Perusahaan (1957)
14. Jalan Kemenangan pada Menyatakan Jalan Taubat yang Sebenarnya (1964)
15. Tujuh Belas Wirid (Ratiul Barakah) (1965)
16. Piagama Beserta Ayat Al-Qur’an
17. Dalilul Haul

Sebelum wafat, ia sempat berwasiat kepada keluarga dan segenap santrinya, wasiat itu berbunyi: Pertama, peliharalah persatuan dan kesatuan di antara sesamamu. Kedua, belajarlah pada guru yang beraliran Ahlussunnah wal Jamaah. Ketiga, peliharalah Yayasan Perguruan Darul Qur’an dan usahakanlah agar berkembang. 

Pesan tersebut terlukis rapi di dinding pesantren agar menjadi perhatian para muridnya. Ia juga selalu menekankan wawasan kebangsaan kepada para santrinya serta agar terus memegang teguh ajaran para ulama dan pendiri bangsa.

Ajengan Abdurrohim, Tokoh Pendiri Pesantren di Banjar


Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, salah satu pesantren yang masyhur bukan hanya di wilayah Kota Banjar, Jawa Barat saja, namun juga dikenal di pelosok tanah air karena kiprah pengasuh, pendiri serta alumninya di berbagai daerah di Indonesia.

Di balik kesuksesan pesantren terbesar di Kota Banjar ini, kisah proses berdirinya pesantren ini, mulai dari kisah nyata hingga yang berbau mistis dan pada masa penjajahan Belanda, tidak terlepas dari cerita yang sering disampaikan para pengasuh kepada santrinya.

KH Munawir Abdurrohim, anak pertama KH Abdurrohim atau Ajengan Abdurrohim, pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar mengatakan, awal berdirinya Ponpes yang dikenal pesantren Citangkolo tersebut saat kiai muda yang bernama Marzuki Mad Salam (wafat tahun 1968 dalam usia 93 tahun) asal Dusun Grumbul Kelawan Desa Gung Agung, Kecamatan Bulus Pesantren Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, melihat kondisi umat islam saat itu yang masih dalam penjajahan Kolonial Belanda sangat memprihatikan.

Dengan kemampuan materi yang terbatas, cerita KH Munawir kepada NU Online, Kiai Marzuki memohon kepada Alloh dan mendapatkan petunjuk untuk keluar serta mencari tempat untuk mensyiarkan agama islam.

"Beliau berkelana ke berbagai tempat mulai dari Gombong, Tambak, Sitinggil dan tempat lainnya. Nah, pada tahun 1911 beliau tiba di Citangkolo yang mana dikenal daerah dengan kondisi hutan belantara dan konon sangat angker serta banyak binatang buas," kisah KH Munawir.

Ia berkisah, saat Kyai Marzuki ke Citangkolo, ada tiga keluarga yang berasal dari Manonjaya Tasikmalaya, Cineam Tasikmalaya dan Rancah Ciamis.  Namun, kabarnya tiga keluarga tersebut tiba-tiba hilang tanpa sebab.

Tepat tanggal 10 Muharam di tahun masehi 1911, sambung KH Munawir, Kiai Marzuki mendirikan mushola panggung dengan ukuran 2 x 3 meter. Lima tahun kemudian, lahan di sekitar mushola dimanfaatkan guna mendukung kegiatan keagamaan yang dilakukannya.

"Tahun 1916, beliau memboyong keluarga dari desa asalnya dengan membawa bayi laki-laki yang berusia 100 hari, yakni Badrun. Seiring itu, mushola diperbesar hingga ukurannya menjadi 5X9 meter," katanya lagi.

Lambat laut karena perkembangan ajaran islam di Citangkolo semakin melesat, di tahun 1923 mushola yang sudah diperbesar ukurannya tersebut diubah menjadi Masjid Jami' atas permintaan Bupati Tasikmalaya saat itu. Hal itu dilatarbelakangi semakin banyaknya pemuda-pemudi belajar agama ke Kiai Marzuki.

Saat proses pengembangan cikal bakal Pesantren Citangkolo itu, KH Munawir menambahkan, Kiai Marzuki dibantu anaknya yang bernama Kyai Mad Soleh (wafat tahun 1950) serta menantunya.

Pesantren jadi sasaran bom Belanda

Pasa saat zaman pra kemerdekaan, Pesantren Citangkolo menjadi salah satu basis pergerakan untuk membantu para pejuang dalam merebut kemerdekaan dari tangan kolonial Belanda. Dengan semangat berjuang, pasukan dinamakan Hizbulloh yang dipimpin Kiai Badrun, yang kini dikenal dengan sebutan KH Abdurrohim setelah namanya diubah, dan membawahi pasukan di wilayah Ciamis, Tasikmalaya, dan daerah sekitarnya.

"Lantaran tercium pergerakannya oleh Kolonial Belanda, Pesantren Citangkolo akhirnya menjadi sasaran tembakan meriam Belanda dari Banjar. Apalagi kemarahan Belanda memuncak ketika terjadi adanya penggulingan Kereta Api di wilayah Cibeureum Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar," imbuh KH. Munawir yang juga lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir.

Sebelum Kyai Badrun menyiarkan agama islam sebagaimana amanat untuk melanjutkan perjuangan ayahnya, ia kembali menuntut ilmu ke pesantren sebelum mengembangkan Pesantren Citangkolo.

Tahun 1960, terang KH. Munawir, Pondok Citangkolo mengalami kondisi Fatroh (kekosongan Pemimpin). Setelah dirintis kembali pada 10 Muharam di tahun 1960, namanya Diubah menjadi Ponpes Miftahul Huda, dan pada 10 Muharam tahun 1987 nama Ponpes Miftahul Huda ditambah nama menjadi Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo seiring kepulangan KH Munawir belajar dari Mesir.

"Alhamdulillah sejak saat itu Pesantren Citangkolo secara perlahan mulai mengalami perkembangan cukup pesat hingga saat ini yang memiliki lembaga pendidikan mulai dari tingkat PAUD, MI, SMP, MTs, SMA, MA serta Perguruan Tinggi STAIMA Banjar. Makanya di tiap bulan Muharam, kita selalu merayakan Haul pendiri Ponpes dengan berbagai kegiatan selama satu bulan penuh," pungkasnya.

Hikayat Perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah

 
Ya lal wathan, ya lal wathan, ya lal wathan. Hubbul wathan minal iman. Wala takun minal hirman. Inhadhu ahlal wathon. Indonesia Biladi. Anta 'unwanul mufakhoma. Kullu man ya'tika yauma. Thamihan yalqo himama (Pusaka hati wahai tanah airku. Cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negeriku. Engkau Panji Martabatku. Siapa datang mengancammu. Kan binasa dibawah dulimu!)

Bait-bait syair lagu Ya Lal Wathon, menggelora dari pekikan mulut-mulut mungil para siswa sebuah Madrasah Ibtida'iyah (MI) yang terletak tak jauh dari Gunung Lawu. Lagu tersebut menjadi penyemangat mereka saat hendak akan memulai kegiatan belajar di pagi hari, selain juga tentunya lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri yang wajib dihafal oleh para murid. 

Kata salah guru di madrasah tersebut, lagu itu juga menjadi ikhtiar untuk membangkitkan rasa nasionalisme kepada murid sedari dini.

Namun siapa sangka, lagu tersebut ternyata sudah dinyanyikan para siswa perguruan Nahdlatul Wathan di Surabaya, hampir seabad yang lalu. Lagu tersebut merupakan gubahan dari KH Abdul Wahab Chasbullah yang ketika itu mengemban amanah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan) di Nahdlatul Wathan. 

Mbah Wahab bersama dengan KH Abdul Kahar sebagai Direkur, dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah, mereka menjadikan NW sebagai markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. (Anam, 1983)

Kelak, perjuangannya dengan membangun semangat nasionalisme melalui jalur pendidikan akan terus dikenang generasi sesudahnya. Nama madrasah Nahdlatul Wathan yang bermakna 'Kebangkitan Tanah Air', juga sengaja dipilih Mbah Wahab dan kawan-kawannya, untuk menegaskan cita-cita membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Tidak hanya itu, Kiai Wahab juga membentuk cabang-cabang baru: Akhul Wathan di Semarang, Far'ul Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jombang, Ahlul Wathan di Wonokromo dan lain sebagainya. Semua sekolah tersebut memiliki kesamaan, yakni pencantuman kata wathan yang berarti tanah air.

Usaha ini memang tidak mudah, akan tetapi Mbah Wahab selalu yakin akan kemerdekaan yang akan diraih bangsa ini. Pernah suatu ketika Kiai Abdul Halim (Cirebon) bertanya kepadanya, apakah dengan usaha (jalur pendidikan dan perkumpulan ulama) macam begini bisa menuntut kemerdekaan? Mendengar pertanyaan itu, Kiai Wahab segera mengambil satu batang korek api dan menyulutkannya, sambil berkata: “Ini bisa mengancurkan bangunan perang. Kita jangan putus asa. Kita harus yakin tercapai negeri merdeka!” (Saifuddin Zuhri, 1972).

Resolusi Jihad
Bersama sejumlah ulama lainnya, Kiai Wahab juga ikut membidani berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Pada awal berdiri, duetnya bersama sang Rais Akbar Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari menjadikan NU sebagai salah organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan bangsa ini. Salah satunya, ketika dikeluarkan sebuah fatwa 'Resolusi Jihad'. Sebuah seruan yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia, yang mengajak kepada semua untuk berjuang membela Tanah Air dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya.

Resolusi Jihad ini dikeluarkan, ketika pada Oktober 1945, Belanda datang bersama pasukan Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia yang baru beberapa bulan memproklamirkan kemerdekaannya. Satu demi satu kota jatuh ke tangan musuh. Bandung dan Semarang, dua kota penting telah dikuasai pihak sekutu.

Mendengar kabar tersebut, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah mengumpulkan sejumlah ulama untuk mengikuti Rapat Besar Konsul-konsul Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur. Dari pertemuan itu dikeluarkan sebuah seruan yang kemudian dikenal dengan “Resolusi Jihad fi Sabilillah”.

Adapun isi seruan tersebut sebagaimana termaktub dalam buku “Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama” (Anam: 1983) yakni : “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe 'ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”.

Selain itu para ulama juga memberikan beberapa seruan, antara lain: Pertama. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangan. Kedua. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Usai disebarkannya seruan itu ke segala penjuru, para pejuang di tiap daerah bersiaga perang menunggu pendaratan tentara Inggris yang kabarnya sudah tersiar. Seruan untuk berjihad fii sabilillah ini pula yang menjadi pemicu perang massa (Tawuran Massal) pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Saat itulah, arek-arek Surabaya yang dibakar semangat jihad menyerang Brigade ke-49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Hasilnya, lebih dari 2000 orang pasukan kebanggaan Inggris tewasnya. Sang Brigadir Jenderal, A.W.S. Mallaby juga tewas akibat dilempar granat. Perang Massa (Tawuran Massal) tanpa komando yang berlangsung selama tiga hari yang mengakibatkan kematian Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby itulah yang memicu kemarahan Inggris yang berujung pada pecahnya pertempuran besar Surabaya 10 November 1945, yang kelak dikenang sebagai tanggal peringatan Hari Pahlawan.

Pahlawan Sejati
Demikianlah, dedikasi Mbah Wahab baik sebagai seorang ulama, pendidik, negarawan, maupun aktivis pergerakan untuk bangsa ini memang sangat besar pengaruhnya. Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepadanya, tentu istimewa. Namun, jauh sebelum pemberian gelar pahlawan ini, Mbah Wahab sejatinya sudah menjadi sosok yang telah memberikan banyak inspirasi dan jasa.

Kini, meski ia telah wafat, jasa dan ilmunya akan tetap dikenang, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair Arab yang termaktub dalam kitab Alala: “Akhul 'ilmi hayyun kholidun ba'da mautihi, wa aushooluhu tahta turobi romiimun” (Para ahli ilmu, hidup abadi (nama dan jasanya) meski telah mati dan jasadnya terkubur di dalam tanah). Lahumu al-fatihah!