Tampilkan postingan dengan label Hujjah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hujjah. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2018

Hukum Mengamalkan Shalawat Karangan Para Ulama


Sebagian orang dengan tergesa-gesa, tanpa pengkajian mendalam, telah menjatuhkan vonis bid'ah dhalalah kepada umat Islam yang mengamalkan shalawat yang redaksinya berasal dari para ulama. Menurut mereka, semua shalawat yang tidak berasal dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bid'ah, dan orang yang membaca dan mengamalkannya akan masuk ke dalam neraka. Menurut mereka lagi, satu-satunya redaksi shalawat yang dibenarkan oleh syariat hanyalah yang datang dari lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Benarkah demikian? Berikut akan kami paparkan penjelasan yang memperlihatkan bahwa pernyataan di atas adalah tidak benar dan bertentangan dengan yang diamalkan oleh para ulama dari kalangan Salafunash Shalih.

Perlu diketahui bahwa redaksi shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam jumlahnya sangatlah banyak. Sebagian pakar bahkan memperkirakan jumlahnya mencapai belasan ribu. Tentu saja redaksi shalawat yang dikarang oleh para ulama jumlahnya jauh lebih banyak dari redaksi shalawat yang langsung diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang informasinya dapat kita peroleh dari hadits-hadits yang telah diriwayatkan hingga kepada kita.

Untuk mendapatkan redaksi shalawat yang beragam itu tentu kita tidak hanya merujuk kepada hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun juga kepada kitab-kitab karya para ulama. Beragamnya redaksi shalawat biasanya karena para ulama ingin mengungkapkan kecintaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan cita rasa dan bahasa terindah yang mampu mereka sampaikan. Namun demikian, di balik beragamnya redaksi shalawat tersebut, satu hal yang pasti bahwa seluruhnya memiliki dasar yang sama, yakni kecintaan, pemuliaan, dan pengagungan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mungkin Anda bertanya, "Apakah syariat membolehkan mengarang sendiri redaksi shalawat di luar redaksi shalawat yang diajarkan secara langsung oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang tercantum di dalam hadits-haadits beliau? Apakah para sahabat, sebagai orang yang menjalani masa kehidupan bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga membuat (mengarang) sendiri shalawat-shalawat untuk beliau?"

Untuk menjawab pertanyaan itu, rasanya cukup kami tampilkan di sini dua riwayat yang memperlihatkan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah menciptakan sendiri shalawat-shalawat terindah yang mereka persembahkan untuk sang kekasih, Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Shalawat Karangan Abdullah bin Mas'ud ra

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: اِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاَحْسِنُوا الصَّلاَةَ عَلَيْهِ، فَاِنَّكُمْ لاَ تَدْرُوْنَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ. فَقَالُوْا لَهُ: فَعَلِّمْنَا، قَالَ: قُوْلُوْا: اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتِكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَاِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ مُحَمَّدٍِ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ اِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُوْلِ الرَّحْمَةِ، اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا يَغْبِطُهُ بِهِ اْلاَوَّلُوْنَ وَاْلاَخِرُوْنَ. حديث صحيح رواه ابن ماجه (906 ) وعبد الرزاق في المصنف (3109 ) وأبو يعلى في مسنده (5267 )، والطبراني في المعجم الكبير (9/ 115 )، واسماعيل القاضي في فضل الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم (ص/ 59 )، وذكره الشيخ ابن القيم في جلاء الافهام (ص/ 36
Abdullah bin Mas'ud ra berkata, "Apabila kalian bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka buatlah redaksi shalawat yang bagus untuk beliau, siapa tahu shalawat kalian itu diberitahukan kepada beliau." Mereka (para sahabat) menjawab, "Ajari kami cara bershalawat yang bagus kepada beliau." Abdullah bin Mas'ud ra menjawab, "Katakanlah: [Allaahummaj'al shalawaatika wa rahmatika wa barakaatika 'alaa sayyidil mursaliina wa imaamil muttaqiina wa khaatimin nabiyyiina Muhammadin 'abdika wa rasuulika imaamil khairi wa qaa-idil khairi wa rasuulir rahmati, Allaahummab 'atshu maqaamam mahmuudan yaghbithuhu bihil awwaluuna wal aakhiruun] "Ya Allah, jadikanlah segala shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada Sayyid para Rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, pamungkas para nabi, yaitu Nabi Muhammad hamba dan rasul-Mu, pemimpin dan pengarah kebaikan dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah, anugerahilah beliau maqam terpuji yang menjadi harapan orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian."

Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah [906], Abdurrazzaq [3109], Abu Ya'la [5267], al-Thabrani dalam Mu'jam al-Kabir [9/115] dan Ismail al-Qadhi dalam Fadhl al-Shalat, halaman 59. Hadits ini juga disebutkan oleh Ibnul Qayyim Jauziyah dalam kitabnya Jala' al-Afham, halaman 36 dan 72.   

Coba Anda perhatikan riwayat di atas. Bukankah di dalamnya kita dapatkan informasi bahwa Abdullah bin Mas'ud ra telah meminta kepada para sahabat yang lain agar membuat redaksi shalawat yang bagus dan baik untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan, beliau sendiri telah menyusun sebuah redaksi shalawat dan mengajarkannya kepada yang lain. 

Shalawat Karangan Ibnu Abbas ra

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّهُ كَانَ اِذَا صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ شَفَاعَةَ مُحَمَّدٍِ اْلكُبْرَى وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ اْلعُلْيَا وَاَعْطِهِ سُؤْلَهُ فِي اْلاَخِرَةِ وَاْلاُوْلَى كَمَا اَتَيْتَ اِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى. رواه عبد بن حميد في مسنده وعبد الرزاق في المصنف (3104 ) واسماعيل القاضي في فضل الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم (ص/ 52 ). وذكره الشيخ ابن القيم في جلاء الافهام (ص/ 76 ). قال الحافظ السخاوي في القول باديع (ص/ 46 ): اسناده جيد قوي صحيح
Ibnu Abbas ra apabila membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata: [Allaahumma taqabbal syafaa'ata Muhammadinil kubra warfa' darajatahul 'ulyaa wa a'thihi su'lahu fil aakhirati wal uulaa kamaa ataita Ibraahiima wa Muusaa] "Ya Allah, kabulkanlah syafaat Nabi Muhammad yang agung, tinggikanlah derajatnya (dengan derajat) yang luhur, dan berilah permohonannya di dunia dan akhirat sebagaimana Engkau (telah) mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dan Musa."

Hadits ini diriwayatkan oleh Abd Humaid dalam al-Musnad, Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [3104] dan Ismail al-Qadhi dalam Fadhl al-Shalat 'ala al-Nabiy Shallallahu 'alaihi wa Sallam, halaman 51. Hadits ini juga disebutkan oleh Ibnul Qayyim Jauziyah dalam kitabnya Jala' al-Afham, halaman 76. Al-Hafizh al-Sakhawi mengatakan dalam al-Qaul Badi', halaman 46, sanad hadits ini jayyid, kuat dan shahih.

Berdasarkan kedua riwayat di atas maka bisa disimpulkan bahwa syariat Islam membolehkan kita untuk membuat (mengarang) redaksi shalawat demi menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, mengagungkan dan memuliakan beliau. Bila Anda tidak mampu membuat redaksi shalawat sendiri, tentunya merujuk kepada redaksi-redaksi shalawat yang diajarkan para ulama yang kecintaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tak perlu diragukan lagi adalah lebih utama. Syariat Islam bukan hanya membolehkan membuat redaksi shalawat, namun juga membolehkan mengamalkan shalawat-shalawat karya para ulama, di samping mengamalkan shalawat yang ma'tsur dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Imam Syafi'i pun Menyusun Redaksi Shalawat

Diriwayatkan bahwa Imam Syafi'i telah menulis shalawat dengan redaksi sebagai berikut:

صَلَّى اللهُ عَلٰى مُحَمَّدٍِ عَدَدَ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَعَدَدَ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ اْلغَافِلُوْنَ
"Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Nabi Muhammad sejumlah ingatan orang-orang yang berdzikir kepada-Nya dan sejumlah kelalaian orang-orang yang lalai kepada-Nya."

Hal ini diriwayat oleh banyak ulama, di antaranya Ibnul Qayyim Jauziyah dalam Jala' al-Afham, halaman 230, al-Hafizh al-Sakhawi dalam Qaul Badi', halaman 254, dan lain-lain.

Setelah menyimak paparan di atas, coba bandingkan dengan fatwa nyeleneh sebagian orang yang membid'ahkan mengarang shalawat dan menghukumi haram bershalawat dengan redaksi shalawat yang dikarang oleh para ulama. 

Jika mengarang shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah perbuatan yang masuk kategori bid'ah dhalalah, tentulah sahabat sekaliber Abdullah bin Mas'ud ra dan Ibnu Abbas ra tidak akan melakukannya. Tentu pula ulama mujtahid mutlaq sekaliber Imam Syafi'i pun akan meninggalkannya. Jika mengamalkan shalawat selain yang datang dari Nabi Shallallahu 'alaih wa sallam adalah haram, tentulah Abdullah bin Mas'ud ra tidak akan mengajarkan shalawat karangannya kepada para sahabat yang lain.

Dengan demikian, mengamalkan shalawat yang dikarang oleh para ulama adalah dibolehkan dan insya Allah tidak termasuk dalam perbuatan bid'ah dhalalah sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang yang dangkal pemahamannya terhadap syariat Islam.

Wallahu 'alam

Sabtu, 02 Juni 2018

Zakat Fitrah (Zakat Fithri)


A. Syarat Wajib Zakat Fitrah 

1. Islam.
2. Merdeka (bukan budak, hamba sahaya).
3. Mempunyai kelebihan makanan atau harta dari yang diperlukan di hari raya dan malam hari raya. Maksudnya mempunyai kelebihan dari yang diperlukan untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya, pada malam dan siang hari raya. Baik kelebihan itu berupa makanan, harta benda atau nilai uang.
4. Menemui waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah. Artinya menemui sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari awalnya bulan Syawwal (malam hari raya).

Keterangan:

Yang dimaksud “ mempunyai kelebihan di sini “ adalah kelebihan dari kebutuhan pokok sehari-harinya. Maka barang yang menjadi kebutuhan sehari-hari, seperti rumah yang layak, perkakas rumah tangga yang diperlukan, pakaian sehari-hari dan lain-lain tidak menjadi perhitungan. Artinya, jika tidak mampu membayar zakat fitrah, harta benda di atas tidak wajib dijual guna mengeluarkan zakat.

B. Jenis dan Kadar Zakat Fitrah 

1. Berupa bahan makanan pokok daerah tersebut (bukan uang).
2. Sejenis. Tidak boleh campuran.
3. Jumlahnya mencapai satu sha’ untuk setiap orang. ( 1 sha’ = 4 mud = kurang lebih 3 Kilogram).
4. Diberikan di tempat orang yang dizakati.
Misalnya, seorang ayah yang berada di Surabaya dengan makanan pokok beras, menzakati anaknya yang berada di Kediri dengan makanan pokok jagung. Maka jenis makanan yang digunakan zakat adalah jagung dan diberikan pada faqir miskin di Kediri.

Catatan :

- Menurut Imam Abu Hanifah, zakat fitrah boleh dikeluarkan dalam bentuk uang.
- Jika tidak mampu 1 sho’, maka semampunya bahkan jika tidak mempunyai kelebihan harta sama sekali, maka tidak wajib zakat fitrah.

C. Waktu mengeluarkan zakat fitrah

Waktu pelaksanaan mengeluarkan zakat fitrah terbagi menjadi 5 kelompok :

1. Waktu wajib : Yaitu, ketika menemui bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawwal. Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghrib malam 1 Syawwal, wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghrib malam 1 Syawwal tidak wajib dizakati.
2. Waktu jawaz : Yaitu, sejak awal bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.
3. Waktu Fadhilah : Yaitu, setelah terbit fajar dan sebelum shalat hari raya.
4. Waktu makruh : Yaitu, setelah shalat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur, seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.
5. Waktu haram : Yaitu, setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawwal, kecuali jika ada udzur seperti hartanya tidak ada di tempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram. Sedangkan status dari zakat yang dikeluarkan tanggal 1 Syawwal adalah qadha’.

D. Syarat Sahnya Zakat :

1. Niat.
Harus niat di dalam hati ketika mengeluarkan zakat, memisahkan zakat dari yang lain, atau saat memberikan zakat kepada wakil untuk disampaikan kepada yang berhak atau antara memisahkan dan memberikan.

- Niat zakat untuk diri sendiri :
نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ نَفْسِي / هَذَا زَكاَةُ مَالِي اْلمَفْرُوْضَةْ
" Saya niat mengeluarkan zakat untuk diriku / ini adalah zakat harta wajibku “

Jika niat zakat fitrah atas nama orang lain, hukumnya diperinci sebagai berikut :

a. Jika orang lain yang dizakati termasuk orang yang wajib ditanggung nafkah dan zakat fitrahnya, seperti istri, anak-anaknya yang masih kecil, orang tuanya yang tidak mampu dan setrusnya, maka yang melakukan niat adalah orang yang mengeluarkan zakat tanpa harus minta izin dari orang yang dizakati. Namun boleh juga makanan yang akan digunakan zakat diserahkan oleh pemilik kepada orang-orang tersebut supaya diniati sendiri-sendiri.
b. Jika mengeluarkan zakat untuk orang yang tidak wajib ditanggung nafkahnya, seperti orang tua yang mampu, anak-anaknya yang sudah besar (kecuali jika dalam kondisi cacat atau yang sedang belajar ilmu agama), saudara, ponakan, paman atau orang lain yang tidak ada hubungan darah dan seterusnya, maka disyaratkan harus mendapat izin dari orang-orang tersebut. Tanpa izin dari mereka, maka zakat yang dikeluarkan hukumnya tidak sah.

- Niat atas nama anaknya yang masih kecil :
نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي الصَّغِيْرِ...
“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang masih kecil…”

- Niat atas nama ayahnya :
نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ اَبِي ...
“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ayahku…”

- Niat atas nama ibunya :
نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنء اُمِّي ...
“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ibuku…”

- Niat atas nama anaknya yang sudah besar dan tidak mampu :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي اْلكَبِيْرِ...
“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang sudah besar…”

2. Dikeluarkan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat.

Orang-orang yang berhak menerima zakat :

Ada 8 golongan yang berhak menerima zakat dalam Al-Quran Allah Swt berfirman :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.

a. Faqir
Faqir adalah orang yang tidak mempunyai harta atau pekerjaan sama sekali, atau orang yang mempunyai harta atau pekerjaan namun tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Misalnya dalam sebulan ia butuh biaya sebesar Rp 500.000, namun penghasilannya hanya mendapat Rp 200.000 (tidak mencapai separuh yang dibutuhkan). Yang dimaksud dengan harta dan pekerjaan di sini adalah harta yang halal dan pekerjaan yang halal dan layak. 

Dengan demikian yang termasuk golongan faqir adalah :
1.Tidak mempunyai harta dan pekerjaan sama sekali.
2.Mempunyai harta, namun tidak mempunyai pekerjaan. Sedangkan harta yang ada sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama umumnya usia manusia.
3.Mempunyai harta dan pekerjaan, harta saja atau pekerjaan saja namun harta atau pekerjaan tersebut haram menurut agama. Bagi orang yang mempunyai harta yang melimpah atau pekerjaan yang menjanjikan, namun haram menurut agama, maka orang tersebut termasuk faqir sehingga berhak dan boleh menerima zakat.
4.Tidak mempunyai harta dan mempunyai pekerjaan, namun tidak layak baginya. Seperti pekerjaan yang bisa merusak harga diri, kehormatan dan lain-lain. 

b. Miskin.
Miskin adalah orang yang mempunyai harta atau pekerjaan yang tidak bisa mencukupi kebutuhannya dan orang-orang yang ditanggung nafkahnya. Misalnya dalam sebulan ia butuh biaya sebesar Rp 500.000, namun penghasilannya hanya mendapat Rp 400.000 (mencapai separuh yang dibutuhkan).

c. Amil.
Amil zakat yaitu orang-orang yang diangkat oleh imam atau pemerintah untuk menarik zakat kepada orang yang berhak menerimanya dan tidak mendapat bayaran dari baitul mal atau negara. Amil zakat meliputi bagian pendataan zakat, penarik zakat, pembagi zakat dan lain-lain. Jumlah zakat yang diterima oleh amil disesuaikan dengan pekerjaan yang dilakukan alias memakai standart ujroh mistly (bayaran sesuai tugas kerjaannya masing-masing).

Syarat-syarat amil zakat :
1.Islam
2.Laki-laki
3.Merdeka
4.Mukallaf
5.Adil
6.Bisa melihat
7.Bisa mendengar
8.Mengerti masalah zakat (faqih / menguasai) 

d. Muallaf.
Secara harfiyah, muallaf qulubuhum adalah orang-orang yang dibujuk hatinya. Sedangkan orang-orang yang termasuk muallaf, yang nota bene berhak menerima zakat adalah :
1. Orang yang baru masuk Islam dan iman (niat)-nya masih lemah.
2. Orang yang baru masuk Islam dan imannya sudah kuat, namun dia mempunyai kemuliaan di kalangan kaumnya. Dengan memberikan zakat kepadanya, diharapkan kaumnya yang masih kafir mau masuk Islam.
3. Orang Islam yang melindungi kaum muslimin dari gangguan dan keburukan orang-orang kafir.
4. Orang Islam yang membela kepentingan kaum muslimin dari kaum muslim yang lain yang dari golongan anti zakat atau pemberontak dan orang-orang non Islam.
Semua orang yang tergolong muallaf di atas berhak menerima zakat dengan syarat Islam. Sedangakan membujuk non muslim dengan menggunakan harta zakat itu tidak boleh.

e. Budak mukatab.
Budak mukatab yaitu budak yang dijanjikan merdeka oleh tuannya apabila sudah melunasi sebagian jumlah tebusan yang ditentukan dengan cara angsuran. Tujuannya untuk membantu melunasi tanggungan dari budak mukatab.

f. Ghorim (orang yang berhutang).
Ghorim terbagi menjadi 3 bagian :
1. Orang yang berhutang untuk mendamaikan dua orang atau dua kelompok yang sedang bertikai.
2. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan diri sendiri dan keluarga.
3. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan umum, seperti berhutang untuk membangun masjid, sekolah, jembatan dan lain-lain.
4.Orang yang berhutang untuk menanggung hutangnya orang lain. 

g. Sabilillah.
Sabilillah yaitu orang yang berperang di jalan Allah dan tidak mendapatkan gaji. Sabilillah berhak menerima zakat untuk seluruh keperluan perang. Sejak berangkat sampai kembali, sabilillah dan keluarganya berhak mendapatkan tunjangan nafkah yang diambilkan dari zakat. Sedangkan yang berhak memberikan zakat untuk sabilillah adalah imam (penguasa) bukan pemilik zakat.

Keterangan :
Di kalangan ulama terdapat khilaf tentang makna fii sabilillah. Ada pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud fii sabilillah tiada lain adalah orang-orang yang menjadi sukarelawan untuk berperang di jalan Allah Swt dan tidak mendapatkan gaji, dan inilah pendapat mayoritas para ulama (pendapat yang kuat). Sebagian ulama mengatakan bahwa fii sabilillah adalah semua aktifitas yang menyangkut kebaikan untuk Allah sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qaffal, seperti untuk sarana-sarana pendidikan dan peribadatan Islam. Dan pendapat ini adalah lemah.

h. Ibnu Sabil (musafir).
Ibnu sabil yaitu orang yang memulai bepergian dari daerah tempat zakat atau musafir yang melewati daerah tempat zakat dengan syarat :

1. Bukan bepergian untuk maksyiat
2. Membutuhkan biaya atau kekurangan biaya. Walaupun ia mempunyai harta di tempat yang ia tuju.

E. Orang-orang yang Tidak Berhak Menerima Zakat :
1. Orang kafir atau murtad.
2. Budak /hamba sahaya selain budak mukatab.
3. Keturunan dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib (para habaib), sebagaimana hadits shahih, Nabi Saw bersabda :

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ
“ Sesungguhya shadaqah ini (zakat) adalah kotoran manusia dan tidak dihalalkan bagi Muhammad dan keluarga Muhammad “.
4. Orang kaya. Yaitu orang yang penghasilannya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.
5. Orang yang ditanggung nafkahnya. Artinya, orang yang berkewajiban menanggung nafkah, tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang yang ditanggung tersebut.

F. Mekanisme Pembagian Zakat
Apabila zakat dibagikan sendiri oleh pemilik atau wakilnya, maka perinciannya sebagai berikut :
- Jika orang yang berhak menerima zakat terbatas (bisa dihitung), dan harta zakat mencukupi, maka mekanisme mengeluarkan zakatnya harus mencakup semua golongan penerima zakat yang ada di daerah tempat kewajiban zakat. Dan dibagi rata antar golongan penerima zakat.
- Jika orang yang berhak menerima zakat tidak terbatas atau jumlah harta zakat tidak mencukupi, maka zakat harus diberikan pada minimal tiga orang untuk setiap golongan penerima zakat.

Pemilik zakat tidak boleh membagikan zakatnya pada orang-orang yang bertempat di luar daerah kewajiban zakat. Zakat harus diberikan pada golongan penerima yang berada di daerah orang yang dizakati meskipun bukan penduduk asli wilayah tersebut.

Sedangkan jika pembagian dilakukan oleh Imam (penguasa), baik zakat tersebut diserahkan sendiri oleh pemilik kepada imam atau diambil oleh imam, maka harus dibagi dengan cara sebagai berikut :
a. Semua golongan penerima zakat yang ada harus mendapat bagian.
b. Selain golongan amil, semua golongan mendapat bagian yang sama.
c. Masing-masing individu dari tiap golongan penerima mendapat bagian (jika harta zakat mencukupi)
d. Jika hajat dari masing-masing individu sama, maka jumlah yang diterima juga harus sama.

Catatan :

Menurut pendapat Imam Ibnu Ujail Rh adalah :
1. Zakat boleh diberikan pada satu golongan dari beberapa golongan yang berhak menerima zakat.
2. Zakatnya satu orang boleh diberikan pada satu yang berhak menerima zakat.
3. Boleh memindah zakat dari daerah zakat.
Tiga pendapat terakhir boleh kita ikuti (taqlid) walaupun berbeda dengan pendapat dari Imam Syafi’i. Mengingat sulitnya membagi secara rata pada semua golongan, apalagi zakat fitrah yang jumlahnya tidak begitu banyak. 

G. Tanya Jawab Seputar Masalah Zakat
♦ Soal : Sahkah panitia zakat/amil yang dibentuk oleh kelurahan?
Jawab : Jika memenuhi persyaratan-persyaratannya seperti diangkat oleh imam dan panitia itu termasuk orang yang menguasai bab zakat, maka dapat disebut amil zakat. ( Buka kitab Al-Bajury, jilid 1 hal: 290 ).
♦ Soal : Apakah pengurus (panitia) zakat yang didirikan oleh suatu organisasi Islam itu termasuk amil menurut syariat, ataukah tidak?
Jawab : Panitia pembagian zakat yang ada pada waktu ini tidak termasuk amil zakat menurut agama Islam, sebab mereka tidak diangkat oleh imam (kepala negara). (Buka kitab Al-Bajuri 1/283 dan At-Taqrirat : 424).
♦ Soal : Bolehkah zakat fitrah dijual oleh panitia zakat dan hasil penjualannya dipergunakan menurut kebijaksanaan panitia?
Jawab : Zakat fitrah tidak boleh dijual kecuali oleh mustahiqnya. (Buka kitab Al-Anwar juz 1 bab zakat)
♦ Soal : Bolehkah zakat atau sebagiannya dijadikan modal usaha bagi panitia-panitia zakat atau badan-badan sosial tersebut ?
Jawab : Tidak boleh zakat atau sebagiannya dijadikan modal usaha bagi panitia-panitia atau badan-badan sosial. (Buka kitab Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal : 169) 

Referensi :
1. Bulughul Maram
2. Fathul Qorib
3. Tanwirul Qulub
4. Hasyiah Al-Bajuri
5. Bughyatul Mustarsyidin
6. I’anah At-Tholibin
7. Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab
8. Tuhfatul Muhtaj
9. Ihya Ulumuddin
10. Ahkamul Fuqaha

Selasa, 22 Mei 2018

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Menurut Empat Madzhab


A. Madzhab Hanafi

As-Sarakhsi (w. 483 H) salah seorang ulama dari kalangan madzhab Hanafi menyebutkan di dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut:

فَإِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدِنَا
“Dan shalat tarawih itu 20 rakaat di luar witir menurut pendapat kami.” (Lihat: As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 2 hal. 144)

Al-Kasani (w. 587 H) yang juga merupakan salah seorang ulama madzhab Hanafi menuliskan di dalam kitabnya, Badai’ Ash-Shana’i’ fi Tartib Asy-Syarai' sebagai berikut:

وَأَمَّا قَدْرُهَا فَعِشْرُونَ رَكْعَةً فِي عَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ فِي خَمْسِ تَرْوِيحَاتٍ كُلُّ تَسْلِيمَتَيْنِ تَرْوِيحَةٌ وَهَذَا قَوْلُ عَامَّةِ الْعُلَمَاءِ
“Adapun jumlahnya 20 rakaat dengan 10 salam dan 5 kali istirahat. Tiap dua kali salam ada istirahat. Demikian pendapat kebanyakan ulama.” (Lihat: Al-Kasani, Badai’us-shana’i’ fi Tartib Asy-Syarai', jilid 1 hal. 288)

Ibnu Abdin (w. 1252 H) yang juga merupakan salah satu ulama madzhab Hanafi mengatakan di dalam kitabnya, Raddul Muhtar 'ala Ad-Dur al-Mukhtar, bahwa shalat tarawih 20 rakaat adalah amalan yang dikerjakan oleh seluruh umat baik di Barat maupun di Timur.

قَوْلُهُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ شَرْقًا وَغَرْبًا
“Dan tarawih itu 20 rakaat adalah pendapat jumhur dan itulah yang diamalkan orang-orang baik di Timur ataupun di Barat.” (Lihat: Ibnu Abdin, Raddul Muhtar 'ala Ad-Dur al-Mukhtar jilid 1 hal. 474)

 
B. Madzhab Maliki

Madzhab Maliki pada umumnya menyebutkan bahwa jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat. Selain itu juga ada pendapat yang menyebutkan 36 rakaat.

Ad-Dardir (w. 1201 H) yang merupakan salah seorang ulama di dalam madzhab Maliki dalam kitabnya, Asy-Syarhu ash-Shaghir, menuliskan sebagai berikut:

والتراويح برمضان وهي عشرون ركعة بعد صلاة العشاء يسلم من كل ركعتين
“Dan shalat tarawih di Ramadhan 20 rakaat setelah shalat Isya', dengan salam tiap dua rakaat.” (Lihat: Ad-Dardir, Asy-Syarhu Ash-Shaghir, jilid 1 hal. 404)

An-Nafarawi (w. 1126 H) yang juga ulama madzhab Maliki menuliskan dalam kitabnya, Al-Fawakih Ad-Dawani ala Risalati Ibni Abi Zaid al-Qairuwani sebagai berikut:

وكان السلف الصالح) وهم الصحابة رضى الله عنهم (يقومون فيه) في زمن خلافة عمر بن الخطاب رضى الله عنه وبأمره كما تقدم (في المساجد بعشرين ركع ) وهو اختيار أبي حنيفة والشافعي وأحمد، والعمل عليه الآن في سائر الأمصار
“Para salafus-shalih yaitu para shahabat radhiyallahu’anhum menjalankan pada masa Khilafah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu atas perintahnya di dalam masjid sebanyak 20 rakaat. Dan itulah pilihan Abu Hanifah, Asy-Syafi'i dan Ahmad, serta yang dijalankan sekarang di seluruh dunia.” (An-Nafarawi, Al-Fawakih Ad-Dawani ala Risalati Ibni Abi Zaid Al-Qairuwani)

 
C. Madzhab Syafi'i

Semua ulama madzhab Syafi’i  sepakat menyebutkan bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat.

Al-Mawardi (w. 450 H) salah seorang ulama terdahulu dari madzhab Syafi’i menuliskan di dalam kitabnya, Al-Hawi al-Kabir fi Fiqhi mazhabi al-Imam Asy-Syafi'i sebagai berikut:

فالذي أختار عشرون ركعةً خمس ترويحات كل ترويحة شفعين كل شفع ركعتين بسلام ثمّ يوتر بثلاث؛ لأنّ عمر بن الخطّاب رضي اللّه عنه جمع النّاس على أبيّ بن كعب فكان يصلّي بهم عشرين ركعةً جرى به العمل وعليه النّاس بمكّة
“Yang saya pilih 20 rakaat dengan 5 kali istirahat. Setiap sekali istirahat diselingi 2 kali shalat, tiap satu shalat terdiri dari 2 rakaat dengan satu salam. Kemudian witir tiga rakaat. Karena Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu mengumpulkan orang bermakmum kepada Ubay bin Ka'ab, dan Ubay mengimami dengan 20 rakaat. Dan itulah yang selalu dilakukan dan yang dilaksanakan orang-orang di Mekkah.” (Lihat: Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir fi Fiqhi mazhabi Al-Imam Asy-Syafi'i, jilid 2 hal. 291)

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu muhaqqiq dalam madzhab Syafi’i menuliskan di dalam kitabnya, Al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab, sebagai berikut:

فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ومذهبنا أنها عشرون ركعة فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ومذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليماتٍ
“Shalat tarawih hukumnya sunnah dengan ijma' ulama. Dan menurut madzhab kami jumlahnya 20 rakaat dengan 10 kali salam.” (Lihat: An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal. 31)

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) salah seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i menuliskan di dalam kitabnya, Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudhati Ath-Thalib sebagai berikut:

وهي عشرُون ركعة بعشر تسليمات في كلّ ليلة من رمضان
“Dan (tarawih) itu 20 rakaat dengan 10 salam dilakukan tiap malam bulan Ramadhan.” (Zakaria Al-Anshari, Asna Al-Mathalib fi Syarhi Raudhati Ath-Thalib, jilid 1 hal. 200)

D. Madzhab Hanbali

Al-Khiraqi (w. 334 H) menuliskan dalam kitab Matan al-Khiraqi 'ala Mazhabi Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani atau yang lebih dikenal dengan nama Mukhtashar Al-Khiraqi sebagai berikut:

وقيام شهر رمضان عشرون ركعة والله أعلم
“Dan qiyamu Ramadhan 20 rakaat, wallahu a'lam.”  (Lihat: Al-Khiraqi, Matan Al-Khiraqi 'ala Mazhabi Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani, jilid 1 hal 29)

Ibnu Qudamah (w. 620 H) menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut:

وقِيامُ شهْرِ رمضان عِشْرُون ركْعة يعْنِي صلاة التراوِيح وهي سنّة مُؤكدة وأولُ منْ سنّها رسُولُ اللهِ
“Dan qiyam bulan Ramadhan 20 rakaat, yaitu shalat tarawih. Hukumnya sunnah muakkadah dan orang yang pertama kali melakukannya adalah Rasulullah SAW.” (Lihat: Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 122)

Al-Buhuti (w. 1051 H) sebagai salah seorang dari ulama madzhab Hanbali menuliskan dalam kitabnya, Ar-Raudh Al-Murabba' Syarah Zad Al-Mustaqni', sebagai berikut:

والتراويح) سنة مؤكدة سميت بذلك لأنهم يصلون أربع ركعات ويتروحون ساعة أي: يستريحون (عشرون ركعة) لما روى أبو بكر عبد العزيز في الشافي عن ابن عباس: «أن النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كان يصلي في شهر رمضان عشرين ركعة» (تفعل) ركعتين ركعتين (في جماعة مع الوتر) بالمسجد أول الليل (بعد العشاء
“Dan tarawih hukumnya sunnah muakkadah, dinamakan tarawih karena mereka beristirahat sejenak tiap 4 rakaat. Jumlah 20 rakaat sebagaimana riwayat Abu Bakar Abdul Aziz di dalam Asy-Syafi dari Ibni Abbas bahwa Nabi SAW shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat. Dikerjakan dua rakaat dua rakaat dengan berjamaah ditambah witir di masjid pada awal malam setelah shalat Isya'.” (Lihat: Al-Buhuti, Ar-Raudh Al-Murabba' Syarah Zad Al-Mustaqni', jilid 1 hal. 115)

E. Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Menyimak pendapat madzhab Hanbali yang juga menetapkan 20 rakaat untuk tarawih, maka wajar kalau kita mendapati baik di Masjid al-Haram di Mekkah ataupun Masjid an-Nabawi di Madinah al-Munawwarah sampai kini masih menerapkan shalat tarawih dengan 20 rakaat, sebagaimana disaksikan dan dikerjakan oleh semua jamaah umrah Ramadhan secara langsung.

Yang menarik bahwa pendiri perserikatan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, semasa hidup beliau juga melakukan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat, sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, MA. Hadhratus Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyah Nahdhatul Ulama, juga melaksanakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat di masa hidupnya.