Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2018

Ketika Penguasa Menyeleweng



Telah sampai kepada kita berita yang menyebutkan bahwa Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah yang di dalamnya setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata:

“Ketahuilah, sesungguhnya orang yang paling sengsara di dunia dan di akhirat adalah para penguasa. Sesungguhnya di antara para penguasa itu ada yang ketika ia berkuasa, Allah menjadikannya merasa kurang atas apa yang ia miliki, dan mencintai apa yang dimiliki oleh orang lain. Mengurangi separuh umurnya dan menyelipkan ke dalam hatinya kecintaan, sehingga ia dengki terhadap sesuatu yang sedikit dan murka terhadap sesuatu yang banyak. Ia juga bosan terhadap kesenangan hidup serta tidak bisa merasakan nikmatnya pernikahan.

Ia tidak bisa mengambil pelajaran dan tidak konsisten (antara ucapan dan perbuatannya). Ia laksana dirham yang tak berharga dan fatamorgana yang menipu. Di luar ia terlihat bahagia, padahal sebenarnya ia tertimpa kesusahan. Ia tunduk terhadap hawa nafsunya dan menghabiskan umurnya (untuk menuruti hawa nafsu itu). Setelah itu kematian menjemputnya. Maka Allah akan mempersulit hisab-Nya dan tidak memurahkan ampunan-Nya untuknya. Kecuali bagi yang beriman kepada-Nya, serta berhukum kepada Kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Al-Bayan wat Tabyin, II/43 dan Al-Aqdul Farid, IV/56.

Ini adalah nasihat dan peringatan dari beliau untuk kita dan para penguasa. Untuk kita, Sayidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu secara tersirat menasihatkan agar tak memandang bahwa menjadi penguasa itu enak dan segala kebutuhan pasti terpenuhi. Di balik tampilan yang nampak ‘enak’ itu sesungguhnya tersimpan ujian yang sangat berat. Dalam ujian tersebut, siapa pun di antara penguasa itu yang tidak lulus, maka ia akan divonis dengan hukuman Tuhan yang sangat berat, menjadi manusia yang paling sengsara baik di dunia maupun di akhirat. Sejarah telah mencatat, jumlah penguasa yang tidak lulus dalam ujian tersebut jauh lebih banyak daripada yang lulus. 

Sedangkan bagi para penguasa, ini merupakan nasihat dan peringatan keras dari Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Maka hendaklah insyaf dan selalu memohon pertolongan Allah dalam melaksanakan tugas. Jika itu tidak dilakukan maka yang akan muncul dalam dirinya adalah sifat tamak, selalu merasa kurang atas apa yang telah ia miliki, benci terhadap sesuatu yang sedikit dan murka terhadap sesuatu yang banyak. 

Murka terhadap sesuatu yang banyak maksudnya adalah selalu tidak pernah merasa bahagia jika menyaksikan ada orang yang memiliki sedikit kelebihan dari yang dimilikinya. Sifat lainnya yang muncul adalah tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan, dan ia menampilkan diri sebagai orang yang bahagia, padahal batinnya penuh dengan himpitan kesusahan. 

Sifat-sifat dan keadaan para penguasa yang gagal, seperti yang disebutkan oleh Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, telah nyata ada di antara para penguasa di dunia ini, bahkan di negeri kita sendiri. Mereka itu akan memperoleh kesulitan saat berhadapan dengan Allah kelak di akhirat. Allah Subhanahu wata’ala akan mempersulit hisab dan ampunan-Nya bagi mereka. 

Oleh karena itu, bagi para penguasa, sadarlah dan segeralah memohon bimbingan Allah. Hanya ada satu cara yang bisa menyelamatkan seorang penguasa dari kesulitan-kesulitan itu, yakni selalu berhukum dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk merealisasikan itu, tentunya tidak harus mengubah negara ini menjadi negara Islam. Cukuplah dengan membuat segala macam peraturan yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah, kemudian secara konsisten dilaksanakan dan dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rabu, 18 Juli 2018

Hari Yang Penuh Angan-Angan



Dalam sebuah khutbahnya, Sayidina Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:


“Amma ba’du… Sesungguhnya dunia sudah mulai menjauh dan memohon izin untuk berpisah, sedangkan akhirat sudah mulai mendekat dan bersiap untuk disambut.


Sekarang adalah waktu untuk berlatih, sedangkan esok adalah waktu untuk bertanding.


Ketahuilah… bahwa kalian saat ini berada dalam hari-hari yang penuh dengan angan-angan, sedangkan ajal sedang menunggu di belakangnya. Maka barangsiapa yang tidak berhenti dari angan-angan sebelum ajalnya datang, maka tidaklah berguna baginya perbuatannya itu. Dan semua yang ia angan-angankan itu hanya akan mencelakakannya.
Ketahuilah… beramallah untuk Allah saat senang, sebagaimana engkau beramal saat takut.
Ketahuilah… sungguh aku tidak pernah melihat orang yang menginginkan surga tidur darinya, dan orang-orang yang menjauhi neraka lengah darinya.
Ketahuilah… barangsiapa yang menolak petunjuk maka ia akan dijerumuskan dalam kesesatan.
Ketahuilah… sesungguhnya kalian telah diperintahkan untuk sadar dan telah ditunjukkan pada bekal (yang akan kalian bawa ke akhirat).


Dan sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.”


Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Bayan wat Tabyin, 2/52 dan Al-Aqdul Farid, 4/65.


Ini merupakan penjelasan Sayidina Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada kita perihal kebanyakan sikap hidup yang dilakukan manusia di atas dunia ini. Dunia ini digambarkan oleh Sayidina Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai suatu tempat yang sudah mulai menjauh dan segera memohon izin untuk berpisah dengan kita, sementara akhirat telah berada tepat di hadapan kita dan bersiap untuk disambut. 

Maknanya adalah waktu yang disediakan Allah bagi kita untuk menjalani hidup di dunia sungguh sangat singkat. Sebentar lagi akan berakhir dan kita akan segera berpindah ke sebuah negeri asing yang belum pernah ada seorang pun yang sampai ke sana, lalu kembali menceritakannya kepada kita di dunia ini, yakni negeri akhirat.


Allah menyediakan waktu hidup bagi kita di dunia ini bukanlah untuk bersenang-senang. Dunia adalah tempat berlatih sebelum pertandingan hakiki yang akan kita hadapi di akhirat. Ya, tempat berlatih mengumpulkan amal kebajikan sebagai bekal untuk menghadapi pertandingan yang sesungguhnya antara kebajikan dan kemaksiatan di hadapan ‘Wasit’ yang Maha Adil, Allah Azza wa Jalla. Akan tiba masanya kita berada dalam situasi itu dan kita akan melihat dan menerima keputusan Zat Yang Maha Adil, yang akan memutuskan apakah kita layak masuk ke dalam surga ataukah neraka yang menjadi tempat paling tepat bagi kita.


Karena dunia merupakan tempat berlatih, maka bersungguh-sungguhlah. Dalam hal apa? Dalam beramal dan berjalan di atas petunjuk Allah Swt. Jangan terbuai oleh gemerlap dunia yang mewujud menjadi jutaan angan dalam hayalan kita. Dunia hanya menjanjikan, tapi tak pernah mampu memenuhinya. Oleh karena itu, jangan jadikan ia sebagai bahan hayalan yang melambai-lambai dalam pikiran kita. Segeralah sadar akan hakikat tugas kita di atas dunia ini. Pendekkan angan-angan, bahkan jika mampu putuskan sama sekali. Segera bertaubat darinya dan kembali kepada Allah. Karena orang yang panjang angan-angan lalu maut menghampirinya, sementara ia belum sempat bertaubat dari hayalan-hayalannya itu, maka sungguh semua angannya itu takkan bermanfaat sedikit pun baginya di hadapan Allah Ta’ala.


Jika kita memang mendamba surga jangan pernah tidur darinya. Artinya, selalulah berusaha menempuh jalan yang menunju ke arahnya. Tak perlu kelelahan, istirahat, apalagi berhenti. Tempuhlah secepat mungkin dan sejauh mungkin jalan menuju surga itu. Jangan pernah puas bila kita belum menginjakkan kaki ini di atas kelembutan “karpet merah” yang membentang di dalamnya.


Demikian halnya terhadap neraka. Jika kita tak ingin terjerumus dan masuk ke dalamnya, jangan pernah lengah darinya. Ketahuilah, berjuta jalan dibentangkan setan untuk menjerumuskan anak-cucu Adam ke dalam neraka. Ada berbagai macam bentuknya, dan salah satu darinya adalah panjang angan-angan.


Segeralah sadar dari lamunan dan berbuatlah suatu amal yang nyata. Mohon pertolongan kepada Allah agar Dia berkenan menjernihkan pandangan kita agar mampu melihat mana jalan yang senyatanya mengantarkan kira ke surga dan mana jalan yang menjerumuskan kita ke jurang neraka. Semoga Allah berkenan menolong kita.

Selasa, 17 Juli 2018

Orang yang Sengaja Menjerumuskan Dirinya ke Neraka



Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Barangsiapa yang hari demi hari tidak bertambah kebaikannya, maka ia adalah orang yang menjerumuskan dirinya ke dalam api neraka dengan sengaja.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Kanzul Ummal, 16/223 nomor 44250.

Melalui nasihat Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ini kita bisa ‘memprediksi’ apakah kelak kita akan masuk surga ataukah terjerumus ke jurang neraka. Rumusnya sederhana, apabila setiap hari amal kebaikan Anda bertambah dan itu terus berlangsung hingga akhir hayat, maka ada ‘harapan’ Anda akan masuk surga. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, yang bertambah adalah keburukan dan catatan dosa Anda di sisi Allah, maka ‘harapan’ masuk surga pun menjadi tipis. Bahkan peluang untuk masuk neraka menjadi jauh lebih besar.

Melalui nasihat ini, Sayidina Utsman radhiyallahu ‘anhu sebenarnya mengajak kita untuk segera memeriksa diri. Perhatikan apa yang bertambah dalam hidup kita sepanjang hari-hari yang kita lewati. Kata beliau, orang yang setiap harinya bertambah kemaksiatannya kepada Allah, maka sesungguhnya ia termasuk golongan yang zalim terhadap dirinya sendiri, dan pada hakikatnya ia secara sengaja telah menjerumuskan dirinya ke jurang neraka. Adakah kezaliman melebihi kezaliman orang yang sengaja memasukkan dirinya ke dalam siksa neraka? 

Mulai saat ini tataplah diri kita dan berusahalah untuk menambah catatan amal kebajikan kita di sisi Allah seiring bergulirnya waktu kehidupan yang kita jalani.

Minggu, 15 Juli 2018

Carilah Rezki, Jangan Sekedar Mengharap


Diriwayatkan bahwa Sayidina Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Janganlah kalian enggan mencari rezki, sehingga kalian hanya berkata, ‘Ya Allah…, berilah aku rezki’, padahal ia tahu bahwa langit tidak akan mungkin menurunkan hujan emas atau pun perak. Sesungguhnya Allah memberikan rezki kepada manusia melalui perantara manusia yang lain.”


Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Al-Aqdul Farid, II/325.

Melalui perkataannya ini, Sayidina Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menasihatkan kepada kita agar dalam persoalan rezki tidak hanya berharap kepada Allah, namun harus diiringi dengan usaha mencarinya di permukaan bumi ini. Allah memang telah menjamin rezki setiap makhluk yang diciptakan-Nya, dan rezki untuk seseorang takkan mungkin tertukar dan terberikan kepada orang lain yang tidak berhak menerimanya. 

Namun demikian, Allah tak pernah memberikan informasi kepada kita di mana rezki kita Dia letakkan. Yang jelas, rezki itu telah disebar oleh-Nya di permukaan bumi ini dan kita berkewajiban untuk mencari dan mendapatkannya. Adalah sikap yang tidak baik bila kita hanya menengadahkan tangan kepada Tuhan mengharap turunnya rezki, namun tidak mau berusaha memaksimal potensi yang dianugerahkan-Nya dalam diri kita sebagai sarana untuk memperoleh rezki tersebut. 

Allah memberikan kepada kita berbagai macam kemampuan, salah satu tujuannya adalah agar kita menggunakannya sebagai media memperoleh rezki yang telah dijamin Allah untuk kita. Usaha nyata sekecil apapun untuk mendapatkan rezki dari Allah perlu kita lakukan. Janganlah kemalasan kita untuk berusaha kita bungkus dengan jubah doa dan kepasrahan kepada Allah semata. Tuhan tidak menyukai hamba-hamba-Nya yang malas berusaha. 

Maka, mulai detik ini bangkitlah! Pandanglah semesta ini dan lakukan semaksimal mungkin apa saja yang bisa Anda lakukan terhadapnya. Percayalah, di sana akan Anda temukan rezki yang telah Allah persiapkan untuk Anda. Berbuatlah! Jangan sekedar berharap. Karena langit tak mungkin mampu menyediakan untuk Anda emas dan perak. Apalagi menghujani Anda dengan keduanya.

Sabtu, 14 Juli 2018

Maka Kehidupan Akan Menjadi Milikmu



Diriwayatkan bahwa Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pernah memberi pesan kepada Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu. Dalam pesannya itu Sayidina Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata:

“Hindarilah kemewahan, niscaya ia akan mengikutimu. Dan kejarlah kematian, niscaya kehidupan akan menjadi milikmu.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Al-Aqdul Farid, I/34.

Melalui pesan ini, Sayidina Abu Bakar radhiyallahu 'anhu hendak menasihatkan kepada kita agar jangan menjadikan kemewahan sebagai tujuan dari setiap usaha yang kita lakukan. Sesungguhnya dalam agama ini tidak terlarang bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk hidup bergelimang harta. Hidup yang penuh kecukupan, bahkan berkelebihan, merupakan salah satu bentuk anugerah kemurahan Tuhan kepada hamba-Nya. Namun yang perlu diperhatikan adalah tidak menjadikan kemewahan dan gelimangan harta itu sebagai tujuan hidup. Kalau kita menjadikannya sebagai tujuan hidup, maka nilai kehidupan kita ini tidak lebih dari apa yang kita peroleh itu. 

Di sisi lain, saat kita menjadikan kemewahan sebagai tujuan seluruh usaha yang kita lakukan, maka kita akan menjadi budaknya. Segala cara akan kita pergunakan, bahkan dengan menutup mata terhadap hukum-hukum Tuhan, demi mendapatkannya. Perilaku hidup yang seperti ini tentu saja tidak baik. Kita akan diserang oleh berbagai macam tekanan batin saat kita tak memperoleh apa yang kita inginkan, dan itu pasti akan merugikan diri sendiri.

Hal itu hanya bisa kita hindari jika kita tidak menjadikan kemewahan sebagai tujuan usaha. Jika itu kita lakukan, Sayidina Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, “Kemewahan akan mengikutimu”, maksudnya kemewahan akan menempatkan diri di belakang kita. Ia tidak lagi menjadi sesuatu yang paling berarti, yang jika tidak diperoleh akan menyebabkan kesusahan hati. Bila ia sudah berada di belakang kita, hati dan pikiran kita akan terbebas dari belenggunya, sehingga kita bisa mencapai tujuan yang jauh lebih bernilai dan mulia dibandingkan hanya sekedar mengumpulkan kemewahan dunia. 

Sayidina Abu Bakar radhiyallahu 'anhu juga mengatakan, “Kejarlah kematian, niscaya kehidupan akan menjadi milikmu.” Artinya, kejarlah segala sesuatu yang bisa membuatmu bahagia di kehidupan setelah kematianmu di dunia ini, niscaya hidup ini benar-benar menjadi milikmu. Ya, kalau kita sadar ada kebahagiaan yang lebih hakiki di seberang kematian kita, maka kita akan berusaha untuk menggapainya. Dan itu hanya bisa kita gapai bila di dunia ini kita melakukan berbagai macam amal kebajikan yang mengundang keridhaan Tuhan. Hidup ini akan menjadi milik kita, maksudnya, kita benar-benar akan merasakan bahwa kita hidup jika kita bermanfaat bagi semua makhluk yang ada di sekitar kita. Bukankah hidup ini bermakna jika ia bermanfaat bagi kita? Perhatikanlah orang-orang yang bunuh diri. Mengapa mereka melakukannya? Salah satu alasannya adalah karena mereka tak merasakan lagi adanya manfaat yang dapat mereka peroleh dari kehidupannya di dunia ini. Maka, jika Anda selalu berbuat baik dan banyak orang yang merasakan kebajikan Anda, maka sungguh Anda telah memiliki kehidupan ini.

Jumat, 13 Juli 2018

Istighfar


Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

“Sungguh menakjubkan orang yang hancur, dan ia bisa selamat darinya.” Seseorang bertanya, “Apakah itu?” Sayidina Ali radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Istighfar.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Aqdul Farid, 3/183.

Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menggambarkan orang yang selalu bermaksiat kepada Allah sebagai orang yang hancur. Apa yang menyebabkan kehancurannya? Yang menyebabkan kehancurannya adalah dosa-dosa yang melingkupi relung kalbunya. 

Bagaimana mungkin orang yang bermaksiat itu tidak hancur kalau setiap bagian kalbu yang seharusnya berisi petunjuk Allah justru dipenuhi oleh noktah-noktah akibat dosa yang menghitam. Sebenarnya tidaklah dikatakan hancur seseorang yang kehilangan harta benda dan kekayaannya. Yang hancur itu adalah orang-orang yang hilang dari kalbunya petunjuk-petunjuk Ilahi. 

Namun menurut Sayidina Ali radhiyallahu ‘anhu, seseorang bisa selamat dari kehancuran tersebut, yakni dengan mengucapkan istighfar kepada Allah. Dengan memohon ampun kepada Tuhan, maka Dia akan memutihkan kembali relung kalbu yang telah menghitam oleh dosa. Atas kehendak-Nya, Dia bisa mengganti dosa-dosa yang telah menghitam itu dengan cahaya-cahaya petunjuk dari-Nya. Allah Maha Kuasa melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya. 

Orang yang berbuat maksiat, sehingga hampir saja kehancuran abadi melandanya karena noktah-noktah hitam dosa yang menyelimuti relung kalbunya, bisa selamat dari kehancuran itu jika ia segera kembali kepada Allah, menyadari kekeliruannya, dan memohon ampun (beristigfhar) kepada-Nya. Jika Anda merasa diambang kehancuran disebabkan kemaksiatan yang telah Anda lakukan, jangan putus asa, segeralah beristighfar kepada Allah, niscaya Allah akan menyelamatkan Anda dari kehancuran itu. 

Semoga!

Selasa, 10 Juli 2018

Dunia Tidak Akan Lepas Kecuali Dilepaskan



Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Sesungguhnya dunia itu ada. Ia diserahkan kepada manusia dan sebagian besar dari mereka tertarik padanya. Janganlah kalian bersandar kepada dunia dan berpegang padanya, karena sesungguhnya ia tidak kekal. Dan ketahuilah, sesungguhnya ia tidak akan lepas kecuali bagi orang-orang yang melepaskannya (meninggalkannya).”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tarikh Ath-Thabari, 4/422.

Di sini Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu kembali menasihati kita tentang hal yang berkaitan dengan dunia. Beliau menyatakan bahwa dunia diciptakan Allah dan telah diserahkan kepada manusia. Sebagian besar dari manusia lebih tertarik kepadanya daripada terhadap urusan akhirat.

Bukti ketertarikan sebagian besar manusia terhadap dunia begitu nyata hadir di hadapan kita. Bahkan boleh jadi kita termasuk di antara mereka. Perhatikanlah, bukankah kita lebih banyak menyisihkan waktu untuk berbagai urusan dunia, dan hanya menyisakan sedikit waktu untuk urusan akhirat? Maka, berhati-hatilah. Jangan sampai terlalu seringnya kita berhubungan dengan dunia lalu menjadikannya sebagai sandaran dan tujuan. Kalau itu terjadi, kita akan kecewa. Mengapa? Karena dunia tidaklah kekal.

Ketahuilah, seseorang yang sangat gandrung pada dunia takkan mampu melepaskan diri darinya. Semakin besar ketartarikannya pada urusan dunia, semakin tenggelam ia di dalamnya, dan takkan bisa ia keluar darinya hingga akhir hayatnya. Kalau Anda bertanya, apa yang harus dilakukan agar bisa lepas dari dunia? Jawabannya adalah lepaskan dan tinggalkan ia. Hanya dengan cara itu Anda benar-benar akan bebas dari ikatannya. Semoga sebelum ajal menjemput kita sudah bisa melepaskan dunia dan membebaskan diri darinya, sehingga saat kita menghadap Allah tak sedikit pun terlintas kegamangan untuk meninggalkan dunia dan seluruh isinya.

Minggu, 08 Juli 2018

Pertanyaan Sama Menghasilkan Jawaban Berbeda


Abu Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit. Di antara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu. 

Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. 


Orang pertama mulai bertanya, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil,” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang pertama.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan,” kata Abu Nawas.
Orang pertama puas karena ia memang yakin be­gitu.

Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” 
“Orang yang tidak mengerjakan keduanya,” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang kedua.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan,” kata Abu Nawas.
Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas.

Orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang menger­jakan dosa-dosa kecil?” 
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar,” jawab Abu Nawas. 
“Mengapa?” kata orang ketiga.
"Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu,” jawab Abu Nawas.
Orang ketiga menerima alasan Abu Nawas. Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.

Karena belum mengerti, murid Abu Nawas yang sejak tadi menyaksikan dialog antara sang guru dengan tiga orang tamunya itu bertanya, “Wahai guru, mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?”

“Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya murid Abu Nawas. 

“Anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata," jawab Abu Nawas mengandaikan. 

“Apakah tingkatan otak itu?” tanya murid Abu Nawas. 

“Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Lalu, apakah tingkatan hati itu?” tanya murid Abu Nawas.

“Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang me­ngerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan Kemahabesaran Allah.”

Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa per­tanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda.

Tidak Sekedar Saling Berdampingan


Diriwayatkan bahwa Sayidina Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menulis sepucuk surat yang berisi nasihat kepada Sayidina Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Pada surat itu Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu menulis:

“Perintahkanlah orang-orang yang punya kerabat banyak agar mereka saling mengunjungi, bukan hanya sekedar hidup saling berdampingan (bertetangga).”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Al-Aqdul Farid, II/164.

Lewat pesan ini Sayidina Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menasihati kita agar menjalin hubungan yang jauh lebih erat dengan kerabat kita, yakni dengan cara saling mengunjungi, tidak hanya sekedar saling berdampingan. Apakah keduanya berbeda? Ya, sangat berbeda. Yang pertama mampu membuat hubungan semakin erat, sedangkan yang kedua bisa saja berlangsung tanpa saling mengenal.

Saling mengunjungi dapat melahirkan jalinan batin di antara orang-rang yang melakukannya. Apalagi jika dalam kunjungan itu disertakan hadiah yang bisa menggembirakan hati si penerima. Hadiah tidak harus mahal. Meski hanya sekedar buah tangan yang nilai materinya tak seberapa, namun jika diniatkan untuk bisa mempererat rasa persaudaraan, niscaya ia akan terasa sangat berharga.

Saling mengunjungi juga bisa menjauhkan kita dari prasangka buruk terhadap saudara sendiri dan orang-orang yang kita kunjungi. Dengan saling mengunjungi kita pun akan mengerti keadaan mereka dan bisa saling membantu di antara kita. Ada banyak hikmah di balik sikap saling mengunjungi. Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang hikmah-hikmah itu dan ingin memperolehnya, mengapa tidak segera bersiap untuk mengunjungi saudara-saudara Anda. Mulailah dari sekarang. Tak perlu yang jauh, awali dari yang terdekat dari tempat tinggal Anda. Jika Anda sudah melakukannya, perhatikan apa yang terjadi. Anda akan merasakan sesuatu yang sebelumnya tak pernah Anda alami. Anda akan semakin bahagia. Percayalah!

Rabu, 04 Juli 2018

Malu Kepada Allah


Dalam salah satu ungkapannya, Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
“Wahai kaum muslimin sekalian, malulah kalian kepada Allah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku bersembunyi di balik bajuku ketika aku buang hajat di tanah lapang karena malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Tahdzibu Hilyatil Auliya’, I/58.

Inilah sikap yang telah hilang dari diri sebagian besar manusia, yakni malu kepada Allah. Malu kepada-Nya adalah realisasi adanya keimanan yang benar seorang hamba terhadap Allah. Perasaan malu kepada Allah tidak mungkin kita capai kecuali jika kita benar-benar mengimaninya. 

Mengapa ada banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah, namun tetap melakukan hal-hal yang memalukan, seolah-olah Allah Yang Maha Melihat itu tak menyaksikan apa yang ia lakukan? Ya, itu karena ia hanya mengaku-ngaku saja sebagai orang beriman, padahal sesungguhnya tidaklah demikian keadaannya. 

 
Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menasihati kita agar memiliki perasaan malu kepada Allah. Malu kepada Allah maknanya adalah malu melakukan segala sesuatu yang tidak disukai oleh-Nya. Tidak mudah bagi kita untuk bisa sampai ke sana. Namun demikian, kita harus bergerak ke arahnya. Ilmu dan iman merupakan syarat mutlak agar kita bisa menghadirkan perasaan malu kepada Allah. Dengan ilmu, kita akan mengetahui hal-hal apa saja yang disukai Allah dan yang dimurkai Allah. Dengan iman, kita memiliki keyakinan yang teguh untuk selalu menyadari bahwa Dia menyaksikan setiap perbuatan yang kita lakukan, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Tak ada sesuatu pun yang terhalang dari pandangan Allah Subhanahu wata’ala.

Ada banyak hal kecil atau kebiasaan yang bisa kita lakukan untuk menyemai tumbuhnya perasaan malu kepada Allah. Salah satunya, seperti yang dikatakan Sayidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, saat buang hajat. Bagi kita ini adalah perkara sepele, namun Sayidina Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memperlihatkan bahwa dalam persoalan sepele itu pun beliau menanamkan dalam dirinya perasaan malu kepada Allah. Saat Anda makan, malulah pada Allah bila Anda tak melakukannya sesuai dengan tuntunan Nabi. Saat Anda berdagang, malulah pada Allah jika praktik dagang yang Anda lakukan bertentangan dengan ketentuan Tuhan. Dan sebagainya. Dari hal-hal kecil itu kita belajar untuk menjadi manusia yang memiliki perasaan malu kepada Allah Ta’ala, sebagaimana yang dipesankan oleh Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Selasa, 03 Juli 2018

Berharap dan Takut



Diriwayatkan bahwa Sayidina Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada seseorang, “Apa yang engkau perbuat?” Ia menjawab, “Aku berharap dan aku takut.” Sayidina Ali berkata, “Barangsiapa yang mengharapkan sesuatu, maka ia memintanya, dan barangsiapa yang takut terhadap sesuatu, maka ia akan lari darinya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Aqdul Farid, 3/137.

Ini merupakan rumus singkat tentang berharap dan takut. Menurut Sayidina Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, jika kita mengharapkan sesuatu, maka kita akan memohon dan meminta yang kita harapkan itu. Di sisi lain, jika kita takut terhadap sesuatu, maka kita akan lari dan menjauh dari yang kita takutkan itu.

Artinya adalah jika kita berkata bahwa kita sangat mengharapkan surga yang dijanjikan Allah, maka memohon dan mendambalah kepada Allah akan surga itu. Dia adalah Sang Pemilik surga dan tak ada seorang pun yang mampu memberikannya kepada kita selain Allah. Perilaku yang benar dari seseorang yang mengharap dan mendamba adalah melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan keridhaan yang menjadi tempatnya mengharap dan mendamba itu. Jika Anda mengharapkan surga, temui Allah dan mohon kepada-Nya. Tindakan yang benar yang harus Anda lakukan adalah melaksanakan apa pun yang diperintahkan-Nya, agar Dia ridha memberikan kepada Anda surga milik-Nya itu.

Sebaliknya, jika kita berkata bahwa kita sangat takut terhadap dahsyatnya siksa Allah di dalam neraka, maka tindakan yang benar yang harus kita lakukan adalah lari dan menjauh sejauh mungkin darinya dan dari segala sesuatu yang bisa menyebabkan kita dekat kepadanya. Adalah mustahil seseorang akan selamat dari siksa neraka, jika perbuatannya selalu mengarah dan mendekatkannya kepada neraka itu sendiri. 

Setelah memperoleh nasihat dari Sayidina Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu ini segeralah kita berbenah. Dekati Allah sebagai wujud sikap mendamba kita kepada-Nya, dan menjauhlah dari segala sesuatu yang dilarang oleh-Nya, bahkan menjauhlah dari hal-hal yang bisa mengantarkan kita kepada sesuatu yang dilarang Allah. Dengan cara demikian, semoga kita selamat dalam menempuh hidup ini dari dunia hingga akhirat.

Senin, 02 Juli 2018

Tempat Yang Menipu



Di antara khutbah Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ada ungkapan yang menyatakan:

“Sesungguhnya kalian berada di tempat peristirahatan sementara dan umur yang terbatas. Maka jelanglah ajalmu dengan hal yang terbaik yang mampu engkau lakukan. Engkau telah diberi (kehidupan) melampaui pagi dan sore. Ketahuilah sesungguhnya dunia itu dipenuhi dengan tipuan. Ambillah pelajaran dari apa-apa yang telah berlalu. Kemudian, perbaikilah segala macam kesalahan yang ada padanya. Janganlah bersikap lalai, karena kematian tak pernah melalaikanmu.”

Tegukan Himah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tarikh Ath-Thabari, IV/243.

Sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kita agar jangan melalaikan waktu kehidupan yang diberikan Allah ini. Sadarilah bahwa waktu kita di dunia ini tidaklah lama, hanya sebentar saja. Pepatah Jawa mengatakan hanya sekedar mampir ngombe. Setelah itu perjalanan akan segera kita teruskan. 

Dunia, kata Sayidina Utsman radhiyallahu ‘anhu, hanyalah tempat peristirahatan sementara. Kita belum sampai pada tujuan akhir. Sementara di tempat peristirahatan yang singkat ini kita diwajibkan Allah untuk mempersiapkan bekal dan memperbanyak jumlahnya. Karena perjalanan berikutnya yang harus kita tempuh sangatlah panjang. Bekal yang sedikit akan menyengsarakan kita dan beban berat yang tak berguna pun hanya akan mempersulit kita menempuh jalan yang sangat panjang itu.

Oleh karena itu, pergunakan waktu kehidupan di dunia ini untuk mengumpulkan segala macam kebajikan. Karena hanya bekal yang berupa kebajikan itulah yang akan sangat bermanfaat bagi kita kelak. Selain dari itu hanya akan menyusahkan kita. Disebabkan waktu yang disediakan itu singkat, sementara bekal kebajikan yang dikumpulkan harus banyak, maka hendaklah setiap detik dari perputaran siang dan malam yang kita lewati menggoreskan catatan kebajikan di sisi Allah. Hanya dengan cara itu kita akan beruntung.

Dunia ini menampilkan di hadapan kita berbagai hal yang bisa membuat kita tertipu. Bukankah sudah terlalu sering kita tertipu oleh dunia? Maka, ambillah pelajaran dari yang telah lalu. Segala macam kekhilafan yang kita lakukan segera iringi dengan kebajikan. Jangan lalai oleh perputaran waktu, karena kematian tak pernah melalaikan kita. Sebentar lagi ia akan tiba. Bersiaplah!!