Tampilkan postingan dengan label Washiyyatul Musthafa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Washiyyatul Musthafa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Bagian Ketiga : Wasiat Nabi Seputar Puasa



فَصْلٌ فِى الصَّوْمِ


a. Keutamaan Puasa Ramadhan

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: يَاعَلِيُّ، مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَاجْتَنَبَ الْحَرَامَ فِيْهِ وَالْبُهْتَانَ رَضِيَ عَنْهُ الرَّحْمَانُ وَاَوْجَبَ لَهُ الْجِنَانَ
Nabi Saw bersabda, “Hai Ali, barangsiapa yang puasa (di bulan) Ramadhan, di dalamnya ia meninggalkan (segala perkara) yang haram dan tidak melakukan kebohongan, maka Allah Dzat Yang Maha Kasih akan meridhainya dan wajib baginya masuk surga.”

b. Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

يَاعَلِيُّ، مَنْ اَتْبَعَ رَمَضَانَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَتَبَ اللهُ لَهُ صَوْمَ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“Hai Ali, barangsiapa yang melanjutkan (puasa) Ramadhan dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka Allah mencatat baginya (pahala seperti) puasa setahun penuh.”

Bagian Kedua : Wasiat Nabi Seputar Wudhu dan Shalat

 
فَصْلٌ فِي الْوُضُوْءِ وَالصَّلاَةِ

a. Pengaruh Wudhu terhadap Jiwa

قَالَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: يَاعَلِيُّ، اِسْتَقْصِ اِسْبَاغَ الْوُضُوْءَ فَاِنَّهُ شَطْرُ اْلاِيْمَانِ، فَاِذَا تَوَضَّأْتَ فَلاَ تُسْرِفْ فِي الْمَاءِ، فَاِذَا فَرَغْتَ مِنْ طُهْرٍ فَاقْرَأْ اِنَّآاَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ مِنْ بَعْدِ غَسْلِ الْقَدَمَيْنِ عَشَرَ مَرَّاتٍ يُفَرِّجِ اللهُ هَمَّكَ
“Nabi Saw bersabda, “Hai Ali, tetaplah berusaha menyempurnakan wudhu karena sesungguhnya wudhu itu separuh dari iman. Apabila engkau berwudhu janganlah berlebih-lebihan dalam menggunakan air. Jika engkau telah selesai dari bersuci maka bacalah: Innaa anzalnaahu fii lailatil qadri (QS. al-Qadr), sebanyak sepuluh kali begitu usai membasuh kedua kaki, yang dengannya Allah akan menghilangkan kesusahanmu.”

b. Wudhu Sarana Penghapus Dosa

يَاعَلِيُّ، اِذَا فَرَغْتَ مِنَ الطَّهَارَةِ فَخُذْ مَاءً وَامْسَحْ بِيَدَيْكَ رَقَبَتَكَ وَقُلْ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ. ثُمَّ انْظُرْ اِلَى اْلاَرْضِ وَقُلْ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ. فَاِنَّ مَنْ قَالَ هَذَا غَفَرَ اللهُ لَهُ كُلَّ صَغِيْرَةٍ وَكَبِيْرَةٍ
“Hai Ali, apabila engkau telah selesai dari bersuci (berwudhu), ambillah air dengan kedua tanganmu lalu usapkan ke lehermu seraya membaca: “Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta wahdaka laa syariika laka astaghfiruka wa atuubu ilaik”. Kemudian arahkan pandanganmu ke bumi dan ucapkan: “Asyhadu anna muhammadan ‘abduka wa rasuuluk”. Sesungguhnya siapa saja yang membaca kalimat-kalimat tersebut, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, baik yang kecil maupun yang besar.”

c. Doa Malaikat untuk Orang yang Selalu dalam Keadaan Suci

يَاعَلِيُّ، اِنَّ الْمَلآئِكَةَ يَسْتَغْفِرُوْنَ لِلْاِنْسَانِ مَادَامَ عَلَى طَهَارَةٍ وَلَمْ يُحْدِثْ
“Hai Ali, sesungguhnya malaikat akan senantiasa memohonkan ampun (kepada Allah) untuk seseorang, selama ia berada dalam keadaan suci, tidak berhadas.”

d. Keutamaan Mandi di Hari Jumat

يَاعَلِيُّ، مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غَفَرَاللهُ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَةِ اِلَى الْجُمُعَةِ، وَجَعَلَ ذَلِكَ ثَوَابًا فِيْ قَبْرِهِ وَثَقُلَ عَلَى مِيْزَانِهِ
“Hai Ali, barangsiapa yang mandi pada hari Jumat, maka Allah akan mengampuninya antara Jumat itu hingga Jumat berikutnya, dan (Allah) menjadikan hal itu sebagai pahala di alam kuburnya dan memperberat timbangannya.”

e. Rahasia Perintah Bersiwak

يَاعَلِيُّ، عَلَيْكَ بِالسِّوَاكِ، فَفِيْهِ اَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ فَضِيْلَةً فِي الدِّيْنِ وَالْبَدَنِ 
“Hai Ali, tetapkanlah untuk dirimu bersiwak, karena di dalamnya terdapat dua puluh empat keutamaan bagi agama maupun badan.”

f. Keutamaan Shalat Pada Waktunya

يَاعَلِيُّ، عَلَيْكَ بِالصَّلاَةِ فِيْ اَوْقَاتِهَا، فَاِنَّهَا رَأْسُ كُلِّ فَضِيْلَةٍ وَسَنَامُ كُلِّ عِبَادَةٍ
“Hai Ali, tetapkanlah untukmu shalat (tepat) pada waktunya, karena sesungguhnya ia (shalat tepat waktu) merupakan induk segala keutamaan dan hal yang menonjol pada setiap ibadah.”

g. Amalan yang Membuat Jibril Ingin Jadi Manusia

يَاعَلِيُّ، تمَنَىَّ جِبْرِيْلُ اَنْ يَكُوْنَ مِنْ بَنِيْ اَدَمَ لِسَبْعِ خِصَالٍ: الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ اْلاِمَامِ، وَمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ، وَعِيَادَةِ الْمَرِيْضِ، وَتَشْيِيْعِ الْجَنَازَةِ، وَسَقْيِ الْمَاءِ، وَالصُّلْحِ بَيْنَ اْلاِثْنَيْنِ، وَاِكْرَامِ الْجَارِ وَالْيَتِيْمِ. فَاَحْرِصْ عَلَى ذَلِكَ  
“Hai Ali, malaikat Jibril berangan-angan ingin menjadi manusia karena tujuh hal: (yaitu) shalat lima waktu bersama imam, berkumpul dengan para ulama, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memberi minum orang yang haus, mendamaikan dua orang (yang berselisih), dan memuliakan tetangga dan anak yatim. Untuk itu peliharalah amal-amal tersebut.”

h. Manfaat Melaksanakan Shalat Malam (Tahajjud)

يَاعَلِيُّ، صَلِّ بِاللَّيْلِ وَلَوْكَحَلْبِ شَاةٍ فَالْمُصَلِّي بِاللَّيْلِ اَحْسَنُ وَجْهًا
“Hai Ali, shalatlah di malam hari (tahajjud), meskipun hanya sekedar waktu yang dibutuhkan untuk memerah susu. Karena orang yang mengerjakan shalat malam (tahajjud) itu paling bagus wajahnya.”

i. Cara Takbir dan Rukuk

يَاعَلِيُّ، اِذَا كَبَّرْتَ لِلصَّلاَةِ فَفَرِّجْ اَصَابِعَكَ وَارْفَعْ يَدَيْكَ حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ. وَاِذَا كَبَّرْتَ فَضَعْ يَمِيْنَكَ عَلَى شِمَالِكَ تَحْتَ سُرَّتِكَ. وَاِذَا رَكَعْتَ فَضَعْ يَدَيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ وَفَرِّجْ بَيْنَ اَصَابِعِكَ
“Hai Ali, ketika kamu takbir dalam shalat, maka renggangkanlah jari-jarimu dan angkatlah kedua tanganmu setinggi kedua pundakmu. Dan apabila kamu telah takbir, maka letakkanlah tangan kananmu di atas tangan kiri di bawah pusar. Apabila engkau rukuk, maka letakkanlah kedua tanganmu di atas kedua lututmu, dan renggangkanlah jari-jarimu.”

j. Waktu Yang Baik Untuk Shalat Subuh dan Maghrib

يَا عَلِيُّ، اَسْفِرْ بِالصُّبْحِ وَصَلِّ الْمَغْرِبَ بَعْدَ غِيَابِ الشَّمْسِ بِقَدْرِ حَلْبِ شَاةٍ فَاِنَّ ذَلِكَ مِنْ خِصَالِ اْلاَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ 
“Hai Ali, kerjakanlah shalat Subuh sedikit agak siang dan kerjakanlah shalat Maghrib sesudah matahari terbenam lewat sepanjang (waktu yang dibutuhkan) memerah susu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perbuatan para Nabi ‘Alaihimus Shalaatu Wassalam.”

k. Keutamaan Menunaikan Shalat Berjamaah

يَا عَلِيُّ، عَلَيْكَ بِصَلاَةِ الْجَمَاعَةِ، فَاِنَّهَا عِنْدَ اللهِ كَمَشْيِكَ اِلَى الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، وَمَا يَحْرُصُ عَلَى صَلاَةِ الْجَمَاعَةِ اِلاَّ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ قَدْ اَحَبَّهُ اللهُ، وَمَا يَزْهَدُ فِيْهَا اِلاَّ مُنَافِقٌ قَدْ اَبْغَضَهُ اللهُ 
“Hai Ali, tetapkanlah (wajibkanlah) atasmu shalat berjamaah, karena sesungguhnya (pergi untuk menunaikan) shalat berjamaah itu di sisi Allah seperti pergi (untuk) menunaikan haji dan umrah. Dan tidaklah (seseorang) yang senang menunaikan shalat berjamaah itu melainkan orang yang benar-benar Mukmin yang dicintai Allah, dan tidaklah (seseorang yang tidak suka) menunaikan shalat berjamaah melainkan orang yang munafik yang dibenci Allah.”

l. Hamba Yang Paling Dicintai Allah

يَا عَلِيُّ، اَحَبُّ الْعِبَادِ اِلَى اللهِ تَعَالَى عَبْدٌ سَاجِدٌ يَقُوْلُ فِيْ سُجُوْدِهِ : رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ
“Hai Ali, hamba yang paling dicintai Allah adalah seseorang yang bersujud dan membaca (doa) di dalam sujudnya: Rabbi innii zhalamtu nafsii faghfirlii dzanbii fa-innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau).”

m. Keutamaan Shalat Dhuha

يَاعَلِيُّ، عَلَيْكَ بِصَلاَةِ الضُّحَى فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ، فَاِنَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُنَادِىْ مُنَادٍ مِنْ فَوْقِ شَرَفِ الْجَنَّةِ: اَيْنَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُصَلُّوْنَ الضُّحَى اُدْخُلُوْا مِنْ بَابِ الضُّحَى بِسَلاَمٍ اَمِنِيْنَ، وَمَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِيٍّ اِلاَّ وَاَمَرَهُ بِصَلاَةِ الضُّحَى
“Hai Ali, kerjakanlah shalat dhuha, baik saat berada dalam perjalanan (safar) maupun tidak (mukim di rumah), karena pada hari kiamat nanti aka nada seruan yang datangnya dari atas surga, “Di manakah orang-orang yang selalu mengerjakan shalat dhuha? Masuklah kalian ke dalam surga melewati Pintu Dhuha dengan selamat dan aman.” Dan Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali kepadanya diperintahkan mengerjakan shalat dhuha.”

n. Tiga Ukuran Kemuliaan Hidup

يَاعَلِيُّ، مِنْ كَرَامَةِ الْمُؤْمِنِ زَوْجَةٌ مُوَافِقَةٌ وَالصَّلاَةُ جَمَاعَةً وَجِيْرَانٌ يُحِبُّوْنَهُ
“Hai Ali, di antara (tanda) kemuliaan seorang mukmin adalah istri yang ideal, shalat berjamaah, dan tetangga yang mencintainya.”

Bagian Pertama : Wasiat Nabi Seputar Halal dan Haram


a. Pengaruh Makanan yang Halal

يَاعَلِيُّ، مَنْ اَكَلَ الْحَلاَلَ صَفَادِيْنُهُ، وَرَقَّ قَلْبُهُ، وَلَمْ يَكُنْ لِدَعْوَتِهِ حِجَابٌ

“Hai Ali, barangsiapa memakan (makanan) yang halal maka agamanya menjadi bersih, hatinya lembut, dan tidak ada penghalang bagi doanya.”

b. Pengaruh Makanan Syubhat dan Haram

يَاعَلِيُّ، مَنْ اَكَلَ الشُّبُهَاتِ اِشْتَبَهَ عَلَيْهِ دِيْنُهُ وَاَظْلَمَ قَلْبُهُ. وَمَنْ اَكَلَ الْحَرَامَ مَاتَ قَلْبُهُ وَخَفَّ دِيْنُهُ وَضَعُفَ يَقِيْنُهُ وَحَجَبَ اللهُ دَعْوَتَهُ وَقَلَّتْ عِبَادَتُهُ
 
“Hai Ali, barangsiapa memakan (makanan) yang syubhat, maka akan syubhat baginya agamanya, dan hatinya pun menjadi gelap. Dan barangsiapa yang memakan (makanan) yang haram, maka hatinya akan mati, agamanya ringan, keyakinannya lemah, Allah menghalangi doanya, dan sedikit ibadahnya.”

c. Tanda-tanda Jika Allah Memurkai Seorang Hamba

يَاعَلِيُّ، اِذَا غَضَبَ اللهُ عَلَى اَحَدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً حَرَامًا، فَاِذَا اشْتَدَّتْ غَضَبُهُ عَلَيْهِ وَكَّلَ بِهِ شَيْطَانًا يُبَارِكُ لَهُ وَيَصْحَبُهُ وَيَشْغَلُهُ بِالدُّنْيَا عَنِ الدِّيْنِ وَيُسَهِّلُ لَهُ اُمُوْرَ دُنْيَاهُ وَيَقُوْلُ اللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Hai Ali, jika Allah sudah murka kepada seseorang, maka Allah akan memberinya rezki yang haram. Dan jika kemurkaan Allah itu kian bertambah, maka Allah akan mempersilakan setan untuk membantunya (dalam urusan) kekayaan, membantunya (memperoleh harta), dan membuatnya lebih sibuk dalam urusan dunia daripada agama, hingga setan berkata, ‘Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang’.”

d. Setan Selalu Menyertai Orang yang Bergumul dengan yang Haram

يَاعَلِيُّ، مَاسَافَرَ اَحَدٌ طَالِبَا الْحَرَامَ مَاشِيًا اِلاَّ كَانَ الشَّيْطَانُ قَرِيْنَهُ، وَلاَ رَاكِبًا اِلاَّ رَدِيْفَهُ، وَلاَ جَمَعَ اَحَدٌ مَالاً حَرَامًا اِلاَّ اَكَلَهُ الشَّيْطَانُ، وَلاَ نَسِيَ اسْمَ اللهِ تَعَالَى عِنْدَ الْجِمَاعِ اِلاَّ شَارَكَهُ فِيْ وَلَدِهِ، وَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَشَارِكْهُمْ فِي الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلاَدِ وَعِدْهُمْ 

“Hai Ali, tidaklah seseorang yang pergi mencari sesuatu yang haram melainkan setan akan menemaninya, tidak pula seseorang (yang pergi mencari sesuatu yang haram) dengan menaiki kendaraan melainkan setan akan membuntutinya, tidaklah seseorang yang mengumpul-ngumpulkan harta yang haram melainkan setan nanti akan (ikut) memakan hartanya itu, dan tidaklah seseorang yang lupa mengingat nama Allah ketika berhubungan dengan istrinya melainkan setan akan bergabung dengannya dalam memperoleh keturunan. Demikianlah (yang dimaksud) firman Allah,  “… Dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak serta beri janjilah mereka.”"

e. Allah Tak Menerima Sedekah dari Harta Haram

يَاعَلِيُّ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِلاَوُضُوْءٍ، وَلاَ صَدَقَةً مِنَ الْحَرَامِ

“Hai Ali, Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa berwudhu dan tidak pula menerima sedekah dari harta yang haram.”

f. Anugerah Kebaikan untuk Orang yang Selalu Makan yang Halal

يَاعَلِيُّ، لاَيَزَالُ الْمُؤْمِنُ فِيْ زِيَادَةٍ فِيْ دِيْنِهِ مَالَمْ يَأْكُلِ الْحَرَامَ. وَمَنْ فَارَقَ الْعُلَمَاءَ مَاتَ قَلْبُهُ وَعَمَى عَنْ طَاعَةِ اللهِ

“Hai Ali, seorang mukmin senantiasa akan bertambah agamanya selama ia tidak makan sesuatu yang haram. Dan barangsiapa yang menjauh dari para ulama, maka (lambat laun) hatinya akan mati dan matanya akan buta dari ketaatan kepada Allah.”

g. Celaan Bagi Orang yang Tidak Mengamalkan Hukum al-Qur’an

يَاعَلِيُّ، مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَلَمْ يُحِلَّ حَلاَلَهُ وَلَمْ يُحَرِّمْ حَرَامَهُ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ نَبَذُوْا كِتَابَ اللهِ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ

“Hai Ali, barangsiapa membaca al-Qur’an, namun tidak menghalalkan apa yang dihalalkannya dan tidak mengharamkan apa yang diharamkannya, maka ia termasuk golongan orang yang membuang kitab Allah ke belakang punggung mereka.”

Muqadimah


اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ: فَهَذِهِ وَصِيَّةُ الْمُصْطَفَى عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لِعَلِيِّ بْنِ اَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ. قَالَ دَعَانِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَلَوْتُ مَعَهُ فِيْ مَنْزِلِهِ فَقَالَ لِيْ: يَاعَلِيُّ، اَنْتَ مِنِّيْ بِمَنْزِلَةِ هَرُوْنَ مِنْ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ غَيْرَ اَنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ، اِنِّيْ اُوْصِيْكَ الْيَوْمَ بِوَصِيَّةٍ، اِنْ اَنْتَ حَفِظْتَهَا عِشْتَ حَمِيْدًا وَمُتَّ شَهِيْدًا وَبَعَثَكَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقِيْهًا عَالِمًا

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah ke haribaan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, kepada keluarganya serta kepada para sahabatnya. Selanjutnya, risalah kecil ini adalah tentang Wasiat Nabi Pilihan (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam) kepada Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.  Ali bin Abi Thalib berkata, “Rasulullah telah memanggilku sedangkan aku bersama beliau di rumahnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku, ‘Hai Ali, kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Nabi Harun terhadap Nabi Musa 'Alaihissalam, namun tidak ada lagi nabi sesudahku. Sesungguhnya aku akan berwasiat kepadamu dengan beberapa wasiat, yang apabila engkau menjaganya (mengamalkan wasiat tersebut) niscaya hidupmu akan mulia, matimu akan syahid, dan Allah akan membangkitkanmu pada hari kiamat sebagai seorang ahli fiqih dan ahli ilmu.’”