Tampilkan postingan dengan label Kasyifatus Saja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasyifatus Saja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 April 2018

Muqadimah (Bagian 7)

 
ومَعْنَى الحَدِيْثِ كُلُّ شَيْءٍ لَهُ شَرَفٌ وَعَظَمَةٌ أَوْ كُلُّ شَيْءٍ يُطْلَبُ أَوْ يُبَاحُ أَوْ كُلُّ شَيْءٍ لَهُ قَلْبٌ أَيْ يَمْلِكُ قَلْبًا
Dan arti hadis tersebut adalah "Setiap sesuatu yang memiliki kemuliaan dan keagungan, atau setiap sesuatu yang dianjurkan atau diperbolehkan, atau setiap sesuatu yang memiliki hati, yakni sesuatu itu menguasai hati,

لَا يُبْدَأُ بِسَبَبِ ذٰلِكَ الشَّيْءِ ببِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ كَالْحَيَوَانِ الْمَقْطُوْعِ الذَّنَبِ أَوْ كَمَنْ قَطَعَتْ يَدَاهُ أَوْ كَمَنْ ذَهَبَتْ أَنَامِلُهُ أَوْ كَمَنْ بِهِ جُذَامٌ فِي نَقْصِهِ وَعَيْبِهِ شَرْعًا وَإِنْ تَمَّ حِسًّا
yang tidak dimulai dengan penyebab [hal penting dari] perkara tersebut, dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim, maka sesuatu tersebut seperti hewan yang terpotong ekornya, atau seperti orang yang terpotong kedua tangannya, atau seperti orang yang kehilangan jari jemarinya, atau seperti orang yang terkena penyakit lepra, dalam sisi kekurangannya dan cacatnya menurut syari'at, meskipun sempurna secara indrawi.

وَاخْتُلِفَ فِي الْبَسْمَلَةِ هَلْ هِيَ آيَةٌ مِنَ الْفَاتِحَةِ وَمِنْ كُلِّ سُوْرَةٍ
Dan diperselisihkan tentang basmalah itu, apakah termasuk ayat dari surat al-Fatihah, dan dari semua surat lainnya,

فَعِنْدَ مَالِكٍ أَنَّهَا لَيْسَتْ آيَةً مِنَ الْفَاتِحَةِ وَلَا مِنْ كُلِّ سُوْرَةٍ
maka menurut Imam Malik: "Sesungguhnya basmalah bukan termasuk ayat dari surat al-Fatihah, dan bukan bagian dari setiap surat".

وَعِنْدَ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهَا آيَةٌ مِنْ كُلِّ سُوْرَةٍ
Dan menurut Syekh Abdullah ibnul Mubarak: "Sesungguhnya basmalah termasuk ayat dari setiap surat".

وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا آيَةٌ مِنَ الْفَاتِحَةِ وَتَرَدَّدَ فِي غَيْرِهَا
Dan menurut Imam Asy-Syafi'i: " Sesungguhnya basmalah adalah ayat dari surat al-Fatihah, namun beliau ragu-ragu [tidak memastikannya] pada selain surat al-Fatihah".

وَلَمْ يَخْتَلِفُوْا فِيْهَا فِي النَّمْلِ فِي عَدِّهَا مِنَ الْقُرْآنِ
Dan para ulama'tidak berselisih pendapat mengenai basmalah di dalam surat an-Naml, dalam hal diperhitungkannya basmalah tersebut termasuk al-Qur'an.

وَمِنْ خَوَاصِّهَا إِذَا تَلَاهَا شَخْصٌ عِنْدَ النَّوْمِ إِحْدٰى وَعِشْرِيْنَ مَرَّةً أَمِنَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَمِنَ بَيْتُهُ مِنَ السَّرِقَةِ وَأَمِنَ مِنْ مَوْتِ الْفُجْأَةِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْبَلَايَا أَفَادَهُ أَحْمَدُ الصَّاوِيُّ
Dan diantara berbagai keistimewaan basmalah adalah apabila seseorang membacanya ketika [hendak] tidur sebanyak 21 kali, maka ia akan aman pada malam itu dari setan, dan aman rumahnya dari pencurian, dan aman dari kematian mendadak, dan lain-lainnya dari berbagai bencana. Demikian Syekh Ahmad ash-Shawiy memberi faedah [penjelasan] hal itu.

Kamis, 19 April 2018

Muqadimah (Bagian 6)


 
وَالْبَالُ الشَّرَفُ وَالْعَظَمَةُ أَوِ الْحَالُ وَالشَّأْنُ الَّذِي يُهْتَمُّ بِهِ شَرْعًا
Al-Baal adalah hal yang mulia dan agung, atau adalah kondisi dan hal penting yang perlu diperhatikan dalam pandangan syari'at.

وَمَعْنَى الْإِهْتِمَامِ بِهِ طَلَبُهُ أَوْ إِبَاحَتُهُ بِأَنْ لَا يَكُوْنَ مُحَرَّمًا لِذَاتِهِ وَلَا مَكْرُوْهًا لِذَاتِهِ
Arti berperhatian dengan perkara itu adalah menuntut perkara itu atau diperboehkan perkara itu, seumpama bentuk perkara itu bukan sesuatu yang diharamkan pada zatnya, dan tidak dimakruhkan pada zatnya.

لٰكِنْ لَا تُطْلَبُ الْبَسْمَلَةُ عَلٰى مُحْقِرَاتِ الْأُمُوْرِ كَكَنْسِ زَبَلٍ وَلَا تُطْلَبُ لِلذِّكْرِ الْمَحْضِ كَالتَّهْلِيْلِ
Akan tetapi tidak dianjurkan membaca basmalah pada beberapa perkara yang hina, seperti menyapu kotoran hewan, dan tidak pula dianjurkan pada dzikiran yang murni, seperti tahlil [dzikir laa ilaaha illallah].

وَقَالَ الشَّيْخُ عُمَيْرَةُ وَالْبَالُ أَيْضًا اَلْقَلْبُ كَأَنَّ الْأَمْرَ لِشَرَفِهِ وَعَظَمِهِ مَلَّكَ قَلْبَ صَاحِبِهِ لِاشْتِغَالِهِ بِهِ
Dan telah berkata Syekh 'Umairah: "Al-Baal juga bisa berarti hati, seakan bahwa suatu perkara itu, karena mulianya perkara dan agungnya itu telah menguasai hati pemiliknya [pelakunya], karena tersibukkan dirinya dengan perkara tersebut".

وَفِي قَوْلِهِ فِيْهِ  لِلسَّبَبِيَّةِ   عَلٰى قِيَاسِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِيْ هِرَّةٍ أَيْ بِسَبَبِهَا حَبَسَتْهَا وَهيَ امْرَأَةٌ مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ
Dan dalam sabda Nabi Saw: "fiihi", fa' huruf jarr [khafadh] bermakna sababiyyah, lantaran dipersamakan dengan sabda Nabi Saw: "Seorang wanita masuk neraka sebab seekor kucing", yakni dengan sebab kucing yang dikurung olehnya. Dan dia adalah seorang wanita dari bangsa Bani Israil.

وَالْأَبْتَرُ مَقْطُوْعُ الذَّنَبِ وَالْأَقْطَعُ مَنْ قَطَعَتْ يَدَاهُ أَوْ إِحْدَاهُمَا وَالْأَجْذَمُ بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ الْمَقْطُوْعُ الْيَدِ
Dan al-Abtar adalah yang terpotong ekornya, dan al-Aqtha' adalah orang yang terpotong kedua tangannya atau salah satunya, dan al-Ajdzam dengan huruf dzal yang bertitik, adalah orang yang terputus tangannya,

وَقِيْلَ اَلذَّاهِبُ الْأَنَامِلِ
dan dikatakan [oleh satu pendapat]: "[al-Ajdzam] adalah orang yang hilang jari jemarinya".

وَقَالَ الْبَرَّاوِيُّ هُوَ عِلَّةٌ مَعْرُوْفَةٌ مِنْ بَابِ التَّشْبِيْهِ الْبَلِيْغِ
Dan telah berkata Syekh Al-Barawiy: "Hal itu merupakan illat [alasan] yang sudah umum, termasuk dari bab at-Tasybiihil Baliigh [penyerupaan yang tanpa menggunakan kalimat penyerupaan]".

Rabu, 18 April 2018

Muqadimah (Bagian 5)


 
فَإِذَا كَتَبْتُمْ كِتَابًا فَاكْتُبُوْهَا أَوَّلَهُ وَهِيَ مِفْتَاحُ كُلِّ ِكِتَابٍِ أُنْزِلَ
Maka apabila kalian menulis sebuah kitab, maka tulislah kalimat basmalah di permulaannya. Dan basmalah merupakan pembuka setiap kitab yang sudah diturunkan [oleh Allah].

وَلَمَّا نَزَلَ عَلَيَّ جِبْرِيْلُ بِهَا أَعَادَهَا ثَلَاثًا
Dan tatkala malaikat Jibril turun kepadaku dengan membawa basmalah, maka ia mengulang [kalimat] basmalah sebanyak tiga kali.

وَقَالَ هِيَ لَكَ وَلِأُمَّتِكَ فَمُرْهُمْ لَا يَدَعُوْهَا فِيْ شَيْءٍ مِنْ أُمُوْرِهِمْ فَإِنِّيْ لَمْ أَدَعْهَا طَرْفَةَ عَيْنٍ مُنْذُ نَزَلَتْ عَلٰى أَبِيْكَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَكَذَا الْمَلَائِكَةُ
Dan ia [Jibril] berkata: "Basmalah itu untukmu, dan untuk umatmu, maka perintahkanlah mereka, jangan mereka meninggalkan basmalah di sesuatu pun dari berbagai urusan mereka, karena sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkan kalimat basmalah sekejap matapun, semenjak basmalah diturunkan kepada bapakmu, Nabi Adam AS, dan begitupun para malaikat yang lain".

وَفِيْ رِوَايَةٍ  إِذَا كَتَبْتُمْ كِتَابًا فَاكْتُبُوْا فِي أَوَّلِهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَإِذَا كَتَبْتُمُوْهَا فَاقْرَؤُوْهَا
Dan di dalam riwayat lain [disebutkan]: "Apabila kalian menulis kitab, maka tulislah oleh kalian di awal kitab itu بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, dan apabila kalian telah menulisnya, maka bacalah basmalah itu".

وَرُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ تَخَلَّقُوْا بِأَخْلَاقِ اللهِ
Dan diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda: "Berbudi pekertilah kalian dengan budi-budi pekerti Allah",

وَلَا شَكَّ أَنَّ عَادَتَهُ تَعَالٰى فِي ابْتِدَاءِ كُلِّ سُوْرَةٍ الْإِتْيَانُ بِالْبَسْمَلَةِ سِوٰى بَرَاءَةَ فَنَحْنُ مَأْمُوْرُوْنَ بِهِ
Dan tidak ada keraguan bahwa kebiasaan Allah Ta'ala dalam memulai setiap surat itu adalah mendatangkan dengan [diawali] basmalah, kecuali surat Bara'ah [At-Taubah], maka kita diperintahkan dengannya.

وَعَمَلًا بِحَدِيْثِ أَبِيْ دَاوُوْدَ وَغَيْرِهِ كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَايُبْدَأُ فِيْهُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ أَوْ أَقْطَعُ أَوْ أَجْذَمُ
 Dan karena mengamalkan hadis Imam Abu Daud dan lainnya: "Segala perkara yang memiliki suatu hal penting yang tidak dimulai perkara itu dengan بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, maka perkara itu [laksana makhluk yang] terpotong ekornya, atau terpotong tangannya, atau terpotong ujung jarinya [kurang sempurna]".

Selasa, 27 Februari 2018

Muqadimah (Bagian 4)


 
وَأَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ تَسْعٰى إِلَيْهِ النَّاسُ لِأَخْذِ الْعِلْمِ لَا لِحُظُوْظِ الدُّنْيَا الْفَانِيَةِ
Dan semoga Dia berkenan menjadikan kami termasuk orang, yang manusia berjalan menuju kepadanya [orang itu] untuk mengambil ilmu, bukan untuk mengambil bagian-bagian duniawi yang fana [rusak].

وَأَنْ يُمَتِّعَنَا بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ فِي الدَّارِ الْبَاقِيَةِ
Dan semoga Dia berkenan memberi kenikmatan kepada kami, dengan dapat melihat kepada Zat-Nya yang Mulia di negeri nan abadi.

قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالٰى ﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ﴾
Berkata pengarang kitab Safinatun Naja [Syekh Salim bin Sumair], semoga Allah merahmati beliau: ﴾Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang﴿.

أَيْ بِكُلِّ اسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ الذَّاتِ الْأَعْلٰى الْمَوْصُوْفِ بِكَمَالِ الْأَفْعَالِ أَوْ بِإِرَادَةِ ذٰلِكَ أُؤَلِّفُ مُتَبَرِّكًا أَوْ مُسْتَعِيْنًا
Yakni dengan menyebut setiap nama dari berbagai nama zat yang luhur, yang bersifat dengan kesempurnaan berbagai perbuatan, atau dengan menghendaki hal-hal [berbagai perbuatan] itu, aku mengarang seraya mencari keberkahan atau sembari berharap pertolongan.

فَسَّرَهُ بِذٰلِكَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ الدِّمْيَاطِيُّ فِيْ حَاشِيَتِهِ عَلَى أُصُوْلِ الْفِقْهِ
[Demikian] Guru kami, Syekh Ahmad Ad-Dimyathi, telah menafsirinya [ucapan basmalahnya mushannif] dengan hal itu di dalam kitab Hasyiyah beliau , [yang membahas] mengenai ilmu Ushul Fiqh.

اِبْتَدَأَ الْمُصَنِّفُ كِتَابَهُ بِالْبَسْمَلَةِ إِقْتِدَاءً بِالْكِتَابِ الْعَزِيْزِ فِي ابْتِدَائِهِ بِهَا أَيْ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوْظِ أَوْ بَعْدَ جَمْعِهِ وَتَرْتِيْبِهِ فِي الْمُصْحَفِ
Pengarang [Syekh Salim bin Sumair] mengawali kitabnya dengan ucapan basmalah karena mengikuti Kitab yang Agung [Al-Qur'an] dalam hal diawalinya dengan basmalah, yakni di dalam Lauhul Mahfuzh atau setelah terkumpulkannya dan tersusunkannya di dalam Mushhaf [Al-Qur'an].

وَأَمَّا مَا رُوِيَ أَنَّ أَوَّلَ مَا كَتَبَهُ الْقَلَمُ  "أَنَا التَّوَّابُ وَأَنَا أَتُوْبُ عَلَى مَنْ تَابَ"، فَهُوَ فِي سَاقِ العَرْشِ
Adapun keterangan yang teriwayatkan bahwa hal pertama yang ditulis Al-Qolam adalah: "Aku Maha Penerima Taubat, dan Aku akan menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat", maka kalimat tersebut berada di tiang penyangga 'Arasy.

وَامْتِثَالًا وَإِطَاعَةً لِأَمْرِهِ صلى الله عليه وسلم فِي قَوْلِهِ:  "إِنَّ أَوَّلَ مَا كَتَبَهُ الْقَلَمُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dan karena meneladani dan mematuhi kepada perintah Nabi SAW dalam sabda beliau : "Sesungguhnya hal paling awal yang Al-Qolam menulisnya adalah lafadz بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Muqadimah (Bagian 3)


 
نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى أَنْ يُعِيْنَنَا عَلَى إِكْمَالِهَا وَيُيَسِّرَ الْأَسْبَابَ فِي افْتِتَاحِهَا وَاخْتِتَامِهَا.
Kami mohon kepada Allah subhanahu tabaraka wa ta’ala, agar Dia berkenan menolong kami untuk menyempurnakan kitab ini dan memudahkan berbagai sebab dalam memulai [penulisan] kitab syarah ini dan mengakhirinya.

وَمَا حَمَلَنِيْ عَلَى جَمْعِهَا إِلَّا رَجَاءُ دَعْوَةِ رَجُلٍ صَالِحٍ يَنْتَفِعُ مِنْهَا بِمَسْئَلَةٍ فَيَعُوْدَ نَفْعُهَا عَلَيَّ فِي قَبْرِيْ.
Dan tidak ada yang membawaku untuk menghipun kitab ini, kecuali mengharap doa [dari] orang saleh yang meraih manfaat dari kitab syarah ini terhadap suatu masalah, sehingga akan kembali kemanfaatanya itu kepada diriku di dalam kuburku.

لِحَدِيْثِ  : إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.
Berdasarkan hadits: “Apabila anak Adam telah wafat, maka terputus amalnya kecuali tiga hal, yaitu: Sedekah jariyah [sedekah yang terus mengalir pahalanya], atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang senantiasa berdoa untuknya”.

وَأَنَا وَإِنْ كُنْتُ لَسْتُ أَهْلًا لِهٰذَا الشَّأْنِ وَالْحَالِ قَصَدْتُ التَّشَبُّهَ بِالرِّجَالِ لِأَفُوْزَ بِصُحْبَتِيْ إِيَّاهُمْ.
Dan aku, meskipun diriku bukanlah orang yang layak untuk hal positif dan perilaku yang baik ini, namun aku bermaksud menyerupakan diri dengan orang-orang pilihan tersebut. Agar aku dapat beruntung dengan sebab persahabatanku dengan mereka.

لِمَا وَرَدَ فِي الْخَبَرِ : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.
Berdasarkan keterangan yang teriwayatkan dalam suatu hadits : “Siapa saja yang menyerupakan diri dengan suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.

وَأَرَدْتُ الْغَوْصَ فِي مَحَبَّتِهِمْ لِأَحْشُرَ مَعَهُمْ، لِحَدِيْثِ الْبُخَارِيِّ : يُحْشَرُ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ.
Dan aku ingin ber-totalitas dalam mencintai mereka, agar aku dikumpulkan bersama mereka [pada hari kiamat]. Berdasarkan hadits Imam Bukhari : “Seseorang akan dihimpun bersama orang yang dicintainya”.

وَيَنْبَغِيْ لِمَنْ وَقَفَ عَلَى هَفْوَةٍ أَنْ يُصْلِحَهَا بَعْدَ التَّأَمُّلِ.
Dan seyogyanya bagi siapa saja yang telah mengetahui atas suatu kekeliruan [pada kitab syarah ini], hendaknya ia memperbaikinya setelah melakukan perenungan.

نَسْأَلُ اللهَ تَعَالٰى أَنْ يُبْدِلَ حَالَنَا إِلَى أَحْسَنِ الْأَحْوَالِ.
Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia berkenan menukar perilaku kami kepada perilaku- perilaku yang terbaik.

Minggu, 25 Februari 2018

Muqadimah (Bagian 2)



﴿هٰذِهِ﴾ تَقْيِيْدَاتٌ نَافِعَةٌ إِنْشَاءَ اللهُ تَعَالٰى عَلَى الْمُخْتَصَرِ الْمُلَقَّبِ بِسَفِيْنَةِ النَّجَا فِي أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَالْفِقْهِ لِلشَّيْخِ الْعَالِمِ الْفَاضِلِ سَالِمٍ بْنِ سُمَيْرٍ الْحَضْرَمِيِّ إِقْلِيْمًا وَالْبَتَاوِيِّ وَفَاةً نَوَّرَ اللهُ ضَرِيْحَهُ
﴾[Beliau berkata] : Kitab ini﴿ merupakan catatan-catatan pelengkap yang bermanfaat, Insya Allah Ta'ala, atas kitab ringkas yang berjudul Safinatun Naja [perahu keselamatan], yang berisi ilmu Ushuluddin [pokok-pokok agama, Tauhid] dan ilmu Fiqh, karya Syekh Al-'alim Al-Fadhil Salim bin Sumair Al-Hadhramiy, Hadhramaut [Yaman Selatan] wilayah asalnya, dan Betawi [Jakarta] tempat wafatnya. Semoga Allah menerangi kuburan beliau.

تُتَمِّمُ مَسَائِلَهُ وَتَفُكُّ مُشْكِلَهُ وَتُفَصِّلُ مُجْمَلَهُ
[Kitab syarah ini] menyempurnakan beberapa masalah kitab ringkas tersebut, dan memecahkan permasalahan yang belum jelas dalam kitab tersebut, dan mendetailkan hal yang masih umum dalam kitab tersebut.

وَضَعْتُهَا لِتَكُوْنَ تَذْكِرَةً لِنَفْسِيْ وَلِلْقَاصِرِيْنَ مِثْلِيْ مِنْ أَبْنَاءِ جِنْسِيْ.
Aku [Syekh Nawawi Banten] menyusun kitab ini agar kitab syarah ini menjadi sebagai pengingat bagi diriku, dan bagi orang-orang yang ceroboh sepertiku, dari anak-anak sejenisku [manusia].

وَسَمَّيْتُهَا ﴿كَاشِفَةُ السَّجَا فِيْ شَرْحِ سَفِيْنَةِ النَّجَا﴾
Dan aku menamai kitab syarah ini dengan ﴾Kasifatus Saja fi Syarhi Safinatin Naja [Tirai penutup yang tersingkap dalam men-syarahi kitab Safinatun Naja]﴿.

وَأَوْضَحْتُهُ بِالتَّرَاجُمِ بِالْفَصْلِ وَغَيْرِهِ إِقْتِدَاءً بِكِتَابِ اللهِ تَعَالٰى فِي كَوْنِهِ مُتَرَجَّمًا مُفَصَّلًا سُوْرَةً سُوْرَةً
Dan aku memperjelas kitab syarah ini dengan berbagai penjelasan dengan dipisah-pisahkan oleh pemisahan [fasal] dan selainnya, karena mengikuti Kitabullah Ta'ala dalam keberadaannya sebagai sesuatu yang ditafsirkan dan terpisah-pisahkan surat demi surat.

وَلِأَنَّهُ أَبْعَثُ عَلَى الدَّرْسِ وَالتَّحْصِيْلِ مِنْهُ
Dan karena sesungguhnya hal itu dapat lebih mendorong untuk mempelajari dan memperoleh ilmu dari kitab syarah ini.

وَأَقْحَمْتُ فِيْهِ فَصْلَ الصِّيَامِ إِنْشَاءَ اللهُ تَعَالٰى، لِيَزِيْدَ النَّفْعَ عَلَى الْعَوَامِّ بِعَوْنِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ
Dan aku berupaya maksimal mengupas fasal puasa di dalam kitab ini Insya Allah Ta'ala, agar dapat menambah kemanfaatan bagi orang-orang awam, dengan pertolongan Allah, Sang Merajai yang Maha Mengetahui.

وَجَعَلْتُهُ كَهَيْئَةِ الْمَتْنِ مَعَ الشَّرْحِ فِي الْمُشَابَكَةِ لِتَوَافَقَ صُوْرَةُ الْفَرْعِ صُوْرَةَ الْأَصْلِ فَإِنَّ شَرْطَ الْمُرَافَقَةِ الْمُوَافَقَةُ
Dan aku menjadikan kitab ini sama seperti bentuk matan [teks aslinya] disertai dengan penjelasan dalam hal saling berjalinan [satu sama lain], agar tersesuaikan bentuk turunan [syarah] dengan bentuk asalnya [matan], karena sesungguhnya syarat pertemanan adalah saling kecocokan.

Muqadimah (Bagian 1)


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِأَدَاءِ أَفْضَلِ الطَّاعَاتِ، وَاكْتِسَابِ أَكْمَلِ السَّعَادَاتِ
Segala puji bagi Allah, Zat yang memberi taufiq kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya untuk menunaikan berbagai ketaatan yang paling utama. Dan berusaha meraih berbagai kebahagiaan yang paling sempurna.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمُتَّصِفُ بِجَمِيْعِ الْكَمَالَاتِ.
Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, yang bersifat dengan segala kesempurnaan. 

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلَ الْمَخْلُوْقَاتِ
Dan aku bersaksi sesungguhnya baginda kita, Nabi Muhammad SAW adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, yang menjadi makhluk yang paling utama.

صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجُمِ النَّيِّرَاتِ.
Semoga Allah mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau, dan kepada para keluarga beliau, dan para sahabat beliau, sang bintang gemintang yang bersinaran. 

صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مَا دَامَتِ الْأَرْضُ وَالسَّمٰوَاتِ
Dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang senantiasa tercurah selama bumi dan tujuh lapis langit [masih] tetap ada.

﴿أَمَّا بَعْدُ﴾ فَيَقُوْلُ الْعَبْدُ الْفَقِيْرُ الْمُضْطِرُّ لِرَحْمَةِ رَبِّهِ االْحَلِيْمِ الْخَبِيْرِ. لِكَثْرَةِ التَّقْصِيْرِ وَالْمَسَاوِى
(Adapun setelah itu) maka berkata seorang hamba yang fakir, lagi sangat butuh kepada rahmat Tuhannya, yang Maha Welas Asih lagi Maha Mengawasi. Karena banyak [melakukan] kecerobohan dan berbagai keburukan.

أَبُوْ عَبْدُ الْمُعْطِى مُحَمَّدٌ نَوَوِى ابْنُ عُمَرَ الْجَاوِيُّ.
Yaitu Syekh Abu Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar, berkebangsaan Jawa. 

اَلشَّافِعِيُّ مَذْهَبًا اَلْبَنْتَنِيُّ إِقْلِيْمًا اَلتَّنَارِيُّ مَنْشَأً وَدَارًا.
Imam Syafi’i sebagai [anutan] madzhabnya, Banten sebagai wilayah tinggalnya, Tanara sebagai tempat tumbuh kembang dan rumahnya. 

غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَهُ وَسَتَرَ فِي الدَّارَيْنِ عُيُوْبَهُ
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, dan menutupi aib-aib beliau di dua negeri [dunia dan akhirat].