Tampilkan postingan dengan label Terjemah Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemah Kitab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juni 2018

Surat Al-Baqarah : 6 - 10



إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ
  

إن الذين كفروا - كأبي جهل وأبي لهب ونحوهما «سواء عليهم أأنذرتهم» بتحقيق الهمزتين وإبدال الثانية ألفاً وتسهيلها وإدخال ألف بين المسهلة والأخرى وتركه «أم لم تنذرهم لا يؤمنون» لعلم الله منهم ذلك فلا تطمع في إيمانهم، والإنذار إعلام مع تخويف

(Sesungguhnya orang-orang kafir) seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya (sama saja bagi mereka, apakah kamu beri peringatan) dibaca, a-andzartahum, yakni dengan dua buah hamzah secara tegas. Dapat pula hamzah yang kedua dilebur menjadi alif hingga hanya tinggal satu hamzah saja yang dibaca panjang (atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.) Hal itu telah diketahui oleh Allah, maka janganlah kamu berharap mereka akan beriman. 'Indzar' atau peringatan, artinya pemberitahuan disertai ancaman. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:6)


خَتَمَ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ


 ختم الله على قلوبهم - طبع عليها واستوثق فلا يدخلها خير «وعلى سمعهم» أي مواضعه فلا ينتفعون بما يسمعونه من الحق «وعلى أبصارهم غشاوة» غطاء فلا يبصرون الحق «ولهم عذاب عظيم» قوي دائم.

(Allah mengunci mati hati mereka) maksudnya menutup rapat hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan (begitu pun pendengaran mereka) maksudnya alat-alat atau sumber-sumber pendengaran mereka dikunci sehingga mereka tidak memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka terima (sedangkan penglihatan mereka ditutup) dengan penutup yang menutupinya sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran (dan bagi mereka siksa yang besar) yang berat lagi tetap. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:7)

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ
 
ونزل في المنافقين: «ومن الناس من يقول آمنا بالله وباليوم الآخر» أي يوم القيامة لأنه آخر الأيام «وما هم بمؤمنين» روعي فيه معنى من، وفي ضمير يقول لفظها.


Terhadap orang-orang munafik diturunkan: (Di antara manusia ada orang yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.") yaitu hari kiamat, karena hari itu adalah hari terakhir. (Padahal mereka bukan orang-orang yang beriman). Di sini ditekankan arti kata 'orang', jika kata ganti yang disebutkan lafalnya, yakni 'mereka'. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:8)

 
يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَمَا يَخْدَعُوْنَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ
 

يخادعون الله والذين آمنوا - بإظهار خلاف ما أبطنوه من الكفر ليدفعوا عنهم أحكامه الدنيوية «وما يخدعون إلا أنفسهم» لأن وبال خداعهم راجع إليهم فيفتضحون في الدنيا بإطلاع الله نبيه على ما أبطنوه ويعاقبون في الآخرة «وما يشعرون» يعلمون أن خداعهم لأنفسهم، والمخادعة هنا من واحد كعاقبت اللص وذكر الله فيها تحسين، وفي قراءة وما يخدعون 

(Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman) yakni dengan berpura-pura beriman dan menyembunyikan kekafiran guna melindungi diri mereka dari hukum-hukum duniawi (padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri) karena bencana tipu daya itu akan kembali menimpa diri mereka sendiri. Di dunia, rahasia mereka akan diketahui juga dengan dibuka Allah kepada Nabi-Nya, sedangkan di akhirat mereka akan menerima hukuman setimpal (tetapi mereka tidak menyadari) dan tidak menginsafi bahwa tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri. Mukhada`ah atau tipu-menipu di sini muncul dari satu pihak, jadi bukan berarti berserikat di antara dua belah pihak. Contoh yang lainnya mu`aqabatul lish yang berarti menghukum pencuri. Menyebutkan Allah di sana hanya merupakan salah satu dari gaya bahasa saja. Menurut suatu qiraat tidak tercantum 'wamaa yasy`uruuna' tetapi 'wamaa yakhda`uuna', artinya 'tetapi mereka tidak berhasil menipu'. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:9)

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

 
في قلوبهم مرض - شك ونفاق فهو يمرض قلوبهم أي يضعفها «فزادهم الله مرضاً» بما أنزله من القرآن لكفرهم به «ولهم عذاب أليم» مؤلم «بما كانوا يُكذّبوِن» بالتشديد أي: نبي الله، وبالتخفيف أي قولهم آمنا
 

(Dalam hati mereka ada penyakit) berupa keragu-raguan dan kemunafikan yang menyebabkan sakit atau lemahnya hati mereka. (Lalu ditambah Allah penyakit mereka) dengan menurunkan Alquran yang mereka ingkari itu. (Dan bagi mereka siksa yang pedih) yang menyakitkan (disebabkan kedustaan mereka.) Yukadzdzibuuna dibaca pakai tasydid, artinya amat mendustakan, yakni terhadap Nabi Allah dan tanpa tasydid 'yakdzibuuna' yang berarti berdusta, yakni dengan mengakui beriman padahal tidak. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:10)

Senin, 25 Juni 2018

Surat Al-Baqarah : 1 - 5



لم
 
 الم - الله أعلم بمراده بذلك
 
(Alif laam miim) Allah yang lebih mengetahui akan maksudnya. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:1)
 

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

 
ذلك - أي هذا «الكتاب» الذي يقرؤه محمد «لا ريب» لا شك «فيه» أنه من عند الله وجملة النفي خبر مبتدؤه ذلك والإشارة به للتعظيم «هدىً» خبر ثان أي هاد «للمتقين» الصائرين إلى التقوى بامتثال الأوامر واجتناب النواهي لاتقائهم بذلك النار
 
(Kitab ini) yakni yang dibaca oleh Muhammad Saw (tidak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) bahwa ia benar-benar dari Allah Swt. Kalimat negatif menjadi predikat dari subyek 'Kitab ini', sedangkan kata-kata isyarat 'ini' dipakai sebagai penghormatan. (menjadi petunjuk) sebagai predikat kedua, artinya menjadi penuntun (bagi orang-orang yang bertakwa) maksudnya orang-orang yang mengusahakan diri mereka supaya menjadi takwa dengan jalan mengikuti perintah dan menjauhi larangan demi menjaga diri dari api neraka. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:2)


الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ

 
الذين يؤمنون - يصدِّقون «بالغيب» بما غاب عنهم من البعث والجنة والنار «ويقيمون الصلاة» أي يأتون بها بحقوقها «ومما رزقناهم» أعطيناهم «ينفقون» في طاعة الله
 
(Orang-orang yang beriman) yang membenarkan (kepada yang gaib) yaitu yang tidak kelihatan oleh mereka, seperti kebangkitan, surga dan neraka (dan mendirikan shalat) artinya melakukannya sebagaimana mestinya (dan sebagian dari yang Kami berikan kepada mereka) yang Kami anugerahkan kepada mereka sebagai rezeki (mereka nafkahkan) mereka belanjakan untuk jalan menaati Allah. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:3)
 

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ

 
والذين يؤمنون بما أنزل إليك - أي القراَن «وما أنزل من قبلك» أي التوراة والإنجيل وغيرهما «وبالآخرة هم يوقنون» يعلمون
 
(Dan orang-orang yang beriman pada apa yang diturunkan kepadamu) maksudnya Alquran, (dan apa yang diturunkan sebelummu) yaitu Taurat, Injil dan selainnya (serta mereka yakin akan hari akhirat), artinya mengetahui secara pasti. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:4)
 

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

 
أولئك - الموصوفون بما ذكر «على هدى من ربِّهم وأولئك هم المفلحون» الفائزون بالجنة الناجون من النار
 
(Merekalah), yakni orang-orang yang memenuhi sifat-sifat yang disebutkan di atas (yang beroleh petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung) yang akan berhasil meraih surga dan terlepas dari siksa neraka. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Baqarah 2:5)

Minggu, 24 Juni 2018

Surat Al-Fatihah


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
[بسم الله الرحمن الرحيم]
(Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fatihah 1:1)

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
[الحمد لله] جملة خبرية قصد بها الثناء على الله بمضمونها من أنه تعالى: مالك لجميع الحمد من الخلق أو مستحق لأن يحمدوه، والله علم على المعبود بحق [ربِّ العالمين] أي مالك جميع الخلق من الإنس والجن والملائكة والدواب وغيرهم، وكل منها يُطلق عليه عالم، يقال عالم الإنس وعالم الجن إلى غير ذلك، وغلب في جمعه بالياء والنون أولي العلم على غيرهم، وهو من العلامة لأنه علامة على موجده
(Segala puji bagi Allah) lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Ta’ala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Ta’ala itu adalah Dzat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Dzat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal 'al-`aalamiin' merupakan bentuk jamak dari lafal '`aalam', yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata 'aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fatihah 1:2)

الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
[الرحمن الرحيم] أي ذي الرحمة وهي إرادة الخير لأهله
(Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) yaitu yang mempunyai rahmat. Rahmat ialah menghendaki kebaikan bagi orang yang menerimanya. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fatihah 1:3)


مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

أي الجزاء وهو يوم القيامة، وخص بالذكر لأنه لا ملك ظاهرًا فيه لأحد إلا الله تعالى بدليل «لمن الملك اليوم؟ لله» ومن قرأ مالك فمعناه الأمر كله في يوم القيامة أو هو موصوف بذلك دائمًا «كغافر الذنب» فصح وقوعه صفة لمعرفة
(Yang menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak. Lafal 'yaumuddiin' disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Ta’ala semata, sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang menyatakan, "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (Q.S. Al-Mukmin 16) Bagi orang yang membacanya 'maaliki' maknanya menjadi "Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat". Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti 'ghaafiruz dzanbi' (Yang mengampuni dosa-dosa). Dengan demikian maka lafal 'maaliki yaumiddiin' ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal). (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fatihah 1:4)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
[إيَّاك نعبد وإياك نستعين] أي نخصك بالعبادة من توحيد وغيره ونطلب المعونة على العبادة وغيرها
(Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan) Artinya kami beribadah hanya kepada-Mu, seperti mengesakan dan lain-lainnya, dan kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu dalam menghadapi semua hamba-Mu dan lain-lainnya. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fatihah 1:5)

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
[اهدنا الصراط المستقيم] أي أرشدنا إليه، ويبدَل منه :
(Tunjukilah kami ke jalan yang lurus) Artinya bimbinglah kami ke jalan yang lurus, kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu: (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fatihah 1:6)

صِرَاط الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ، غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
[صراط الَّذين أنعمت عليهم] بالهداية ويبدل من الذين بصلته [غير المغضوب عليهم] وهم اليهود [ولا] وغير [الضالِّين] وهم النصارى ونكتة البدل إفادة أن المهتدين ليسوا يهوداً ولا نصارى. والله أعلم بالصواب، وإليه المرجع والمآب، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اَله وصحبه وسلم تسليما كثيراً دائما أبداً، وحسبنا الله ونعم الوكيل، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
(Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut: (Bukan [jalan] mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat) Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen. Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu. Semoga shalawat dan salam-Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Fatihah 1:7)

Minggu, 20 Mei 2018

Adab-adab Puasa dalam Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali


آدَابُ الصِّيَامِ
ADAB-ADAB PUASA

لاَ يَنْبَغِيْ أَنْ تَقْتَصِرَ عَلَى صَوْمِ رَمَضَانَ فَتَتْرُكَ التِّجَارَةَ بِالنَّوَافِلِ، وَكَسْبِ الدَّرَجَاتِ الْعَالِيَةِ فِي الْفَرَادِيْسِ، فَتَتَحَسَّرُ إِذَا نَظَرْتَ إِلَى مَنَازِلِ الصَّائِمِيْنَ، كَمَا تَنْظُرُ إِلَى الْكَوَاكِبِ الدُّرِّيَّةِ، وَهُمْ فِيْ أَعْلَى عِلِّيِّيْنَ
Tidak selayaknya engkau mencukupkan diri hanya dengan berpuasa di bulan Ramadhan saja, lalu meninggalkan perniagaan dengan amalan-amalan sunnah dan meninggalkan usaha untuk menggapai derajat yang tinggi di surga Firdaus. Jika hal itu yang kau lakukan maka engkau akan menyesal tatkala menyaksikan kedudukan yang dicapai oleh orang-orang yang berpuasa, yang tampak laksana bintang-bintang yang gemerlapan. Dan mereka berada di tempat yang tertinggi di dalam surga.

وَاْلأَيَّامُ الْفَاضِلَةُ الَّتِيْ شَهِدَتِ اْلأَخْبَارِ بِشَرَفِهَا وَفَضْلِهَا، وَبِجَزَالَةِ الثَّوَابِ فِيْ صِيَامِهَا: يَوْمُ عَرَفَةٍ لِغَيْرِ الْحَاجِّ، وَيَوْمُ عَاشُوْرَاءَ، وَالْعَشْرُ اْلأَوَّلُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَالْعَشْرُ اْلأَوَّلُ مِنَ الْمَحَرَّمِ، وَرَجَبُ وَشَعْبَانُ
Hari-hari utama yang disebutkan di dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kemuliaan dan keutamaannya, dan siapa pun yang berpuasa di dalamnya akan memperoleh pahala yang sangat banyak adalah hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak sedang menunaikan haji, hari Asyura (10 Muharram), sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sepuluh hari pertama bulan Muharram, puasa bulan Rajab dan bulan Sya’ban.

وَصَوْمُ اْلأَشْهُرِ الْحُرُمِ مِنَ الْفَضَائِلِ، وَهِيَ ذُو الْقعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَرَجَبُ، وَاحِدٌ فَرْدٌ وَثَلاَثَةٌ سَرْدٌ، وَهَذِهِ فِي السَّنَةِ
Berpuasa di bulan-bulan haram (mulia) adalah sangat utama. Bulan-bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Yang satu menyendiri sedangkan yang lain berurutan. Hal ini berlaku dalam satu tahun.

وَأَمَّا فِي الشَّهْرِ فَأَوَّلُ الشَّهْرِ وَأَوْسَطُهُ وَآخِرُهُ، وَاْلأَيَّامُ الْبِيْضُ، وَهِيَ الثَّالِثَ عَشَرَ، وَالرَّابِعَ عَشَرَ، وَالْخَامِسَ عَشَرَ، وَأَمَّا فِي اْلاُسْبُوْعِ فَيَوْمُ اْلاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ وَالْجُمُعَةِ
Ada pun dalam setiap bulan waktu yang disunnahkan puasa adalah di awal bulan, pertengahan, dan akhir bulan. Kemudian al-Ayyam al-Bidh, yakni tanggal 13, 14 dan 15 pada setiap bulan (hijriyyah). Sedangkan dalam setiap minggu waktu yang disunnahkan puasa adalah hari Senin, Kamis dan Jumat.

فَتُكَفِّرُ ذُنُوْبَ اْلأُسْبُوْعِ بِصَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ وَالْجُمُعَةِ. وَذُنُوْبُ الشَّهْرِ تُكَفَّرُ بِالْيَوْمِ اْلأَوَّلِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْيَوْمِ اْلأَوْسَطِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَاْلأَيَّامِ الْبِيْضِ، وَتُكَفِّرُ ذُنُوْبَ السَّنَةِ بِصِيَامِ هَذِهِ اْلأَيَّامِ وَاْلاَشْهُرِ الْمَذْكُوْرَةِ
Puasa pada hari Senin, Kamis dan Jumat dapat menghapus dosa-dosa seminggu. Sedangkan dosa-dosa sebulan akan terhapuskan dengan berpuasa pada awal bulan, pertengahan bulan, akhir bulan, dan puasa pada al-Ayyam al-Bidh. Ada pun dosa-dosa setahun akan terhapuskan dengan berpuasa pada hari-hari dan bulan-bulan yang telah kami sebutkan. 

وَلاَ تَظُنَّ إِذَا صُمْتَ أَنَّ الصَّوْمَ هُوَ تَرْكُ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْوِقَاعِ فَقَطْ، فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ
Hendaklah engkau tidak menyangka bahwa yang dimaksud dengan berpuasa hanyalah sekedar meninggalkan makan, minum dan tidak melakukan hubungan badan di siang hari. Sungguh Rasulullah SAW telah bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasa yang ia lakukan itu, kecuali hanya lapar dan dahaga.”

بَلْ تَمَامُ الصَّوْمِ بِكَفِّ الْجَوَارِحِ كُلِّهَا عَمَّا يَكْرَهُ اللهُ تَعَالَى، بَلْ يَنْبَغِيْ أَنْ تَحْفَظَ الْعَيْنَ عَنِ النَّظَرِ إِلَى الْمَكَارِهِ، وَاللِّسَانَ عَنِ النُّطْقِ بِمَا لاَ يَعْنِيْكَ، وَاْلأُذْنَ عَنِ اْلاِسْتِمَاعِ إِلَى مَا حَرَّمَهُ اللهُ تَعَالَى
Namun sempurnanya puasa adalah dengan memelihara seluruh anggota badan dari segala hal yang dibenci Allah Ta’ala. Oleh karena itu, hendaklah engkau memelihara mata dari melihat ke arah hal-hal yang tidak disukai Allah, menjaga lisan dari mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat, menjaga telinga dari mendengarkan hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala.

فَإِنَّ الْمُسْتَمِعَ شَرِيْكُ الْقَائِلِ وَهُوَ أَحَدُ الْمُغْتَابِيْنَ، وَكَذَلِكَ تَكُفُّ جَمِيْعَ الْجَوَارِحِ كَمَا تَكُفُّ الْبَطْنَ وَالْفَرْجَ، فَفِي الْخَبَرِ: خَمْسٌ يُفَطِّرْنَ الصَّائِمَ: الْكَذِبُ، وَالْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ، وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ
Karena orang yang mendengarkan memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang mengucapkan, dan dia termasuk salah seorang dari orang yang melakukan ghibah (bila yang didengarkannya itu adalah ghibah). Demikian pula engkau harus menjaga seluruh anggota badanmu dari segala hal yang menyebabkan dosa sebagaimana engkau pun harus menjaga perut dan kemaluanmu dari memperturutkan syahwat.  Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Lima hal yang dapat membatalkan (pahala) puasa orang yang berpuasa: berdusta, bergunjing (ghibah), mengadu domba, bersumpah palsu, dan melihat dengan diiringi syahwat.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ، وَلاَ يَفْسُقْ، وَلاَ يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّيْ صَائِمٌ
Dan dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Sesungguhnya puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa hendaklah ia tidak mengucapkan kata-kata kotor, berbuat maksiat dan berbuat kebodohan. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau memakinya, maka hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’

ثُمَّ اجْتَهِدْ أَنْ تُفْطِرَ عَلَى طَعَامٍ حَلاَلٍ، وَلاَ تَسْتَكْثَرْ فَتَزِيْدَ عَلَى مَا تَأْكُلُهُ كُلَّ لَيْلَةٍ، فَلاَ فَرْقَ إِذَا اسْتَوْفَيْتَ مَا تَعْتَادُ أَنْ تَأْكُلَهُ دُفْعَتَيْنِ فِيْ دَفْعَةٍ وَاحِدَةٍ، وَإِنَّمَا الْمَقْصُوْدُ بِالصِّيَامِ كَسْرُ شَهْوَتِكَ وَتَضْعِيْفُ قُوَّتِكَ لِتَقْوَى بِهَا عَلَى التَّقْوَى
Kemudian berusahalah engkau untuk berbuka dengan makanan yang halal, dan janganlah engkau menambah porsi makanmu melebihi yang biasa engkau makan pada setiap malamnya. Karena jika itu yang engkau lakukan, sama saja engkau membiasakan makan dua kali menjadi satu kali. Yakni makan satu kali namun porsinya untuk dua kali makan. Padahal tujuan berpuasa adalah untuk menghancurkan syahwatmu dan melemahkan kekuatanmu yang dengannya engkau akan menjadi kuat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala.

فَإِذَا أَكَلْتَ عَشِيَّةً مَا تَدَارَكْتَ بِهِ مَا فَتَكَ ضَحْوَةً، فَلاَ فَائِدَةَ فِيْ صَوْمِكَ، وَقَدْ ثَقُلَتْ عَلَيْكَ مَعِدَتُكَ، وَمَا وِعَاءٌ أَبْغَضُ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ بَطْنٍ مُلِىءَ  مِنْ حَلاَلٍ، فَكَيْفَ إِذَا مُلِىءَ مِنْ حَرَاِمٍ؟
Jika engkau memakan di malam hari makanan apa saja yang tidak dapat kau makan di siang hari karena berpuasa, maka tidak ada artinya puasa yang engkau lakukan itu, dan sungguh perutmu akan menjadi berat karena kekenyangan. Padahal tidak ada wadah yang paling dibenci Allah Ta’ala melebihi perut yang penuh (kekenyangan) dengan makanan yang halal. Lalu, bagaimana bila perut itu penuh (kekenyangan) dengan barang yang haram?

فَإِذَا عَرَفْتَ مَعْنَى الصَّوْمِ فَاسْتَكْثِرْ مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتَ، فَإِنَّهُ أَسَاسُ الْعِبَادَاتِ، وَمِفْتَاحُ الْقُرُبَاتِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلاَّ الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ
Apabila engkau telah memahami makna puasa, maka perbanyaklah melakukannya sebatas kemampuanmu, karena puasa adalah dasar (asas) dari ibadah dan kunci pendekatakan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Setiap kebaikan akan memperoleh balasan (pahala) sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku, maka Akulah yang dapat membalasnya.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: إِنَّمَا يَذَرُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، فَالصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, sungguh bau tidak sedap mulut orang yang sedang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma minyak misik. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya ia meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya karena Aku. Maka puasa itu untukku dan Akulah yang akan membalasnya.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِلْجَنَّةِ بَابٌ يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُوْنَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan. Pintu itu tidak akan dimasuki oleh siapa pun kecuali orang-orang yang berpuasa.”

فَهَذَا الْقَدْرُ مِنْ شَرْحِ الطَّاعَاتِ يَكْفِيْكَ مِنْ بِدَايَةِ الْهِدَايَةِ، فَإِذَا احْتَجْتَ إِلَى الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، أَوْ إِلَى مَزِيْدٍ لِشَرْحِ الصَّلاَةِ وَالصِّيَامِ، فَاطْلُبْهُ مِمَّا أَوْرَدْنَاهُ فِيْ كِتَابِنَا إِحْيَاءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ
Inilah penjelasan tentang ketaatan yang dapat kami sampaikan kepadamu dari kitab Bidayatul Hidayah. Jika engkau membutuhkan penjelasan tentang zakat, haji, atau ingin memperoleh penjelasan tambahan seputar shalat dan puasa, maka rujuklah penjelasan yang telah kami sampaikan di dalam kitab kami Ihya ‘Ulumiddin.

Minggu, 22 April 2018

Muqadimah (Bagian 7)

 
ومَعْنَى الحَدِيْثِ كُلُّ شَيْءٍ لَهُ شَرَفٌ وَعَظَمَةٌ أَوْ كُلُّ شَيْءٍ يُطْلَبُ أَوْ يُبَاحُ أَوْ كُلُّ شَيْءٍ لَهُ قَلْبٌ أَيْ يَمْلِكُ قَلْبًا
Dan arti hadis tersebut adalah "Setiap sesuatu yang memiliki kemuliaan dan keagungan, atau setiap sesuatu yang dianjurkan atau diperbolehkan, atau setiap sesuatu yang memiliki hati, yakni sesuatu itu menguasai hati,

لَا يُبْدَأُ بِسَبَبِ ذٰلِكَ الشَّيْءِ ببِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ كَالْحَيَوَانِ الْمَقْطُوْعِ الذَّنَبِ أَوْ كَمَنْ قَطَعَتْ يَدَاهُ أَوْ كَمَنْ ذَهَبَتْ أَنَامِلُهُ أَوْ كَمَنْ بِهِ جُذَامٌ فِي نَقْصِهِ وَعَيْبِهِ شَرْعًا وَإِنْ تَمَّ حِسًّا
yang tidak dimulai dengan penyebab [hal penting dari] perkara tersebut, dengan Bismillaahirrahmaanirrahiim, maka sesuatu tersebut seperti hewan yang terpotong ekornya, atau seperti orang yang terpotong kedua tangannya, atau seperti orang yang kehilangan jari jemarinya, atau seperti orang yang terkena penyakit lepra, dalam sisi kekurangannya dan cacatnya menurut syari'at, meskipun sempurna secara indrawi.

وَاخْتُلِفَ فِي الْبَسْمَلَةِ هَلْ هِيَ آيَةٌ مِنَ الْفَاتِحَةِ وَمِنْ كُلِّ سُوْرَةٍ
Dan diperselisihkan tentang basmalah itu, apakah termasuk ayat dari surat al-Fatihah, dan dari semua surat lainnya,

فَعِنْدَ مَالِكٍ أَنَّهَا لَيْسَتْ آيَةً مِنَ الْفَاتِحَةِ وَلَا مِنْ كُلِّ سُوْرَةٍ
maka menurut Imam Malik: "Sesungguhnya basmalah bukan termasuk ayat dari surat al-Fatihah, dan bukan bagian dari setiap surat".

وَعِنْدَ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهَا آيَةٌ مِنْ كُلِّ سُوْرَةٍ
Dan menurut Syekh Abdullah ibnul Mubarak: "Sesungguhnya basmalah termasuk ayat dari setiap surat".

وَعِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا آيَةٌ مِنَ الْفَاتِحَةِ وَتَرَدَّدَ فِي غَيْرِهَا
Dan menurut Imam Asy-Syafi'i: " Sesungguhnya basmalah adalah ayat dari surat al-Fatihah, namun beliau ragu-ragu [tidak memastikannya] pada selain surat al-Fatihah".

وَلَمْ يَخْتَلِفُوْا فِيْهَا فِي النَّمْلِ فِي عَدِّهَا مِنَ الْقُرْآنِ
Dan para ulama'tidak berselisih pendapat mengenai basmalah di dalam surat an-Naml, dalam hal diperhitungkannya basmalah tersebut termasuk al-Qur'an.

وَمِنْ خَوَاصِّهَا إِذَا تَلَاهَا شَخْصٌ عِنْدَ النَّوْمِ إِحْدٰى وَعِشْرِيْنَ مَرَّةً أَمِنَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَمِنَ بَيْتُهُ مِنَ السَّرِقَةِ وَأَمِنَ مِنْ مَوْتِ الْفُجْأَةِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْبَلَايَا أَفَادَهُ أَحْمَدُ الصَّاوِيُّ
Dan diantara berbagai keistimewaan basmalah adalah apabila seseorang membacanya ketika [hendak] tidur sebanyak 21 kali, maka ia akan aman pada malam itu dari setan, dan aman rumahnya dari pencurian, dan aman dari kematian mendadak, dan lain-lainnya dari berbagai bencana. Demikian Syekh Ahmad ash-Shawiy memberi faedah [penjelasan] hal itu.

Ar-Ruh (Bagian 4)



حدثني رجل من آل عاصم الجحدري قال رأيت عاصما الجحدري في منامي بعد موته بسنتين، فقلت: أليس قدمت؟ قال بلى. قلت: فأين أنت؟ قال: أنا والله في روضة من رياض الجنة. أنا ونفر من أصحابي، نجتمع كل ليلة جمعة وصبيحتها إلى بكر بن عبد الله المزني فنتلقى أخباركم؛ قال: قلت: أجسادكم أم أرواحكم؟ قال هيهات بليت الاجسام وإنما تتلاقى الارواح؛ قال: قلت: فهل تعلمون بزيارتنا إياكم؟ قال نعم، نعلم بها عشية الجمعة كله، ويوم السبت إلى طلوع الشمس؛ قال: قلت: فكيف ذلك دون الأيام كلها؟ قال: لفضل يوم الجمعة وعظمته
Dari seseorang dari kerabat Ashim al-Jahdari, dia berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan al-Jahdari, enam hari setelah ia meninggal dunia. Dalam mimpi itu aku bertanya kepadanya, “Bukankah engkau telah meninggal dunia?” “Benar,” jawabnya. Aku bertanya, “Di mana engkau berada saat ini?” Dia menjawab, “Demi Allah, aku berada di sebuah taman di antara taman-taman surga. Aku bersama beberapa temanku berkumpul setiap malam Jumat dan pagi harinya lalu mendatangi Abu Bakar bin Abdullah al-Mazni, untuk mencari kabar tentang kalian.” Aku bertanya lagi, “Jasad ataukah ruh kalian itu?” Ia menjawab, “Sama sekali tidak, jasad telah usang. Ruh-ruhlah yang saling bertemu.” Aku berkata, “Apakah kalian mengetahui kedatangan kami ketika menziarahi kalian?” “Ya, kami mengetahuinya pada Jumat petang dan pada hari Sabtu hingga terbit matahari,” jawabnya. Aku bertanya lagi, “Mengapa hal itu tidak berlaku untuk seluruh hari?” Ia menjawab, “Karena keutamaan hari Jumat dan keagungannya.”

حدثنا حسن القصاب، قال: كنت أغدو مع محمد بن واسع في كل غداة سبت حتى نأتي الجبان، فنقف على القبور، فنسلم عليهم، وندعو لهم، ثم ننصرف؛ فقلت ذات يوم: لو صيرت هذا اليوم يوم الاثنين! قال: بلغني أن الموتى يعلمون بزوارهم يوم الجمعة، ويوما قبلها، ويوما بعدها  
Dari Hasan al-Qashab, dia berkata, “Setiap Sabtu pagi aku pergi bersama Muhammad bin Wasi’ ke kuburan. Kami mengucapkan salam kepada para penghuni kubur dan mendoakan mereka. Setelah itu kami kembali. Suatu hari kukatakan kepada Muhammad bin Wasi’, “Bagaimana kalau jadwal ziarah kita ubah menjadi hari Senin?” Dia menjawab, “Aku pernah mendengar riwayat bahwa orang-orang yang telah meninggal dunia mengetahui para peziarahnya pada hari Jumat, satu hari sebelumnya dan satu sesudahnya.”

Ar-Ruh (Bagian 3)



قال أبو بكر عبد الله بن محمد بن عبيد بن أبي الدنيا في كتاب القبور: باب معرفة الموتى بزيارة الأحياء
Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Abud-Dunya mengatakan di dalam Kitabul Qubur, tentang orang yang meninggal dunia mengetahui ziarah orang yang masih hidup:

عن عائشة رضي الله تعالى عنها، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من رجل يزور قبر أخيه، ويجلس عنده إلا استأنس به، ورد عليه، حتى يقوم
Dari 'Aisyah ra dia berkata, "Rasulullah Saw bersabda, "Tidaklah seseorang menziarahi kubur saudaranya dan duduk di sisinya, melainkan ia mendengarnya dan menjawab perkataannya hingga ia bangkit."

عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه، قال: إذا مر الرجل بقبر أخيه يعرفه، فسلم عليه، ورد عليه السلام، وعرفه؛ وإذا مر بقبر لا يعرفه فسلم عليه رد عليه السلام
Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, "Apabila seseorang melewati kuburan saudara yang dikenalnya, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, maka dia membalas salamnya dan mengenalinya. Jika dia melewati kuburan orang yang tidak dikenalnya lalu mengucapkan salam, maka dia hanya membalas salamnya."

Ar-Ruh (Bagian 2)



وثبت عنه صلى الله عليه وسلم، أن الميت يسمع قرع نعال المشيعين له أذا انصرفوا عنه
Diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa mayit dapat mendengar sandal orang-orang yang mengiringinya, saat mereka meninggalkan kuburnya. 

وقد شرع النبي صلى الله عليه وسلم لأمته، إذا سلموا على أهل القبور، أن يسلموا عليهم سلام من يخاطبونه فيقول: السلام عليكم دار قوم مؤمنين. وهذا خطاب لمن يسمع ويعقل -- ولو لا ذلك، لكان هذا الخطاب بمنزلة خطاب المعدوم والجماد.
Nabi Saw mensyariatkan kepada umatnya, agar mereka mengucapkan salam kepada ahli kubur, sebagaimana salam yang mereka ucapkan kepada lawan bicara, dengan ucapan, "Salam sejahtera atas kalian (wahai penghuni) tempat tinggal orang-orang mukmin." Ucapan semacam ini layak disampaikan kepada orang yang dapat mendengar dan memikirkannya. Jika tidak, maka ucapan seperti itu hanya ditujukan kepada orang yang tidak ada di tempat atau benda mati. 

والسلف مجمعون على هذا؛ وقد تواترت الآثار عنهم بأن الميت يعرف زيارة الحي له ويستبشر به
Kalangan salaf telah menyepakati hal ini dan banyak atsar yang diriwayatkan dari mereka, bahwa mayit dapat mengetahui ziarah orang yang masih hidup di atas kuburnya, dan dia merasa senang karena kedatangannya itu.

Ar-Ruh (Bagian 1)


المسألة الأولى
وهي هل تعرف الأموات زيارة الأحياء وسلامهم أم لا؟
Masalah Pertama:
Apakah Orang yang Sudah Meninggal Dunia Mengetahui Ziarah dan Ucapan Salam Orang yang Hidup?

قال ابن عبد البر: ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((ما من مسلم يمر على قبر أخيه كان يعرفه في الدنيا، فيسلم عليه، إلا رد الله عليه روحه، حتى يرد عليه السلام)) فهذا نص في أنه يعرفه بعينه، ويرد عليه السلام.
Berkata Ibnu Abdil Barr, diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda, "Tidaklah ada di antara muslim yang lewat di dekat kubur saudaranya, yang dikenalnya saat di dunia, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, melainkan Allah mengembalikan ruhnya kepadanya hingga dia membalas salamnya itu." Ini merupakan nash yang menunjukkan bahwa orang yang sudah meninggal dunia dan terbujur di dalam kuburnya, bisa mengetahuinya dan juga membalas salamnya. 

وفي الصحيحين عنه صلى الله عليه وسلم من وجوه متعددة، أنه أمر بقتلى بدر فألقوا في قليب، ثم جاء حتى وقف عليهم، وناداهم باسمائهم: يا فلان ابن فلان، ويا فلان ابن فلان، هل وجدتم ما وعدكم ربكم حقا؟ فإني وجدت ما وعدني ربي حقا؛ فقال له عمر: يا رسول الله، ما تخاطب من أقوام قد جيفوا، فقال: والذي بعثني بالحق، ما أنتم بأسمع لما أقول منهم، ولكنهم لا يستطيعون جوابا.
Di dalam Ash-Shahihain diriwayatkan dari Rasulullah Saw, dari beberapa jalan, bahwa beliau memerintahkan untuk mengumpulkan para korban perang Badr (yakni, dari kalangan musyrikin Quraisy) dan melemparkannya ke sebuah lobang bekas sumur. Kemudian beliau mendekat dan berdiri di dekat mereka sambil memanggil nama-nama mereka satu persatu, "Hai Fulan bin Fulan, hai Fulan bin Fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kalian adalah benar? Sesungguhnya aku mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb-ku kepadaku benar." Umar bin Khaththab bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana mungkin engkau berbicara dengan orang-orang yang sudah menjadi bangkai?" Beliau menjawab, "Demi yang mengutusku dengan kebenaran, mereka lebih mampu mendengar apa yang kukatakan daripada kalian, hanya saja mereka tak mampu menjawab."

Kamis, 19 April 2018

Muqadimah (Bagian 6)


 
وَالْبَالُ الشَّرَفُ وَالْعَظَمَةُ أَوِ الْحَالُ وَالشَّأْنُ الَّذِي يُهْتَمُّ بِهِ شَرْعًا
Al-Baal adalah hal yang mulia dan agung, atau adalah kondisi dan hal penting yang perlu diperhatikan dalam pandangan syari'at.

وَمَعْنَى الْإِهْتِمَامِ بِهِ طَلَبُهُ أَوْ إِبَاحَتُهُ بِأَنْ لَا يَكُوْنَ مُحَرَّمًا لِذَاتِهِ وَلَا مَكْرُوْهًا لِذَاتِهِ
Arti berperhatian dengan perkara itu adalah menuntut perkara itu atau diperboehkan perkara itu, seumpama bentuk perkara itu bukan sesuatu yang diharamkan pada zatnya, dan tidak dimakruhkan pada zatnya.

لٰكِنْ لَا تُطْلَبُ الْبَسْمَلَةُ عَلٰى مُحْقِرَاتِ الْأُمُوْرِ كَكَنْسِ زَبَلٍ وَلَا تُطْلَبُ لِلذِّكْرِ الْمَحْضِ كَالتَّهْلِيْلِ
Akan tetapi tidak dianjurkan membaca basmalah pada beberapa perkara yang hina, seperti menyapu kotoran hewan, dan tidak pula dianjurkan pada dzikiran yang murni, seperti tahlil [dzikir laa ilaaha illallah].

وَقَالَ الشَّيْخُ عُمَيْرَةُ وَالْبَالُ أَيْضًا اَلْقَلْبُ كَأَنَّ الْأَمْرَ لِشَرَفِهِ وَعَظَمِهِ مَلَّكَ قَلْبَ صَاحِبِهِ لِاشْتِغَالِهِ بِهِ
Dan telah berkata Syekh 'Umairah: "Al-Baal juga bisa berarti hati, seakan bahwa suatu perkara itu, karena mulianya perkara dan agungnya itu telah menguasai hati pemiliknya [pelakunya], karena tersibukkan dirinya dengan perkara tersebut".

وَفِي قَوْلِهِ فِيْهِ  لِلسَّبَبِيَّةِ   عَلٰى قِيَاسِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِيْ هِرَّةٍ أَيْ بِسَبَبِهَا حَبَسَتْهَا وَهيَ امْرَأَةٌ مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ
Dan dalam sabda Nabi Saw: "fiihi", fa' huruf jarr [khafadh] bermakna sababiyyah, lantaran dipersamakan dengan sabda Nabi Saw: "Seorang wanita masuk neraka sebab seekor kucing", yakni dengan sebab kucing yang dikurung olehnya. Dan dia adalah seorang wanita dari bangsa Bani Israil.

وَالْأَبْتَرُ مَقْطُوْعُ الذَّنَبِ وَالْأَقْطَعُ مَنْ قَطَعَتْ يَدَاهُ أَوْ إِحْدَاهُمَا وَالْأَجْذَمُ بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ الْمَقْطُوْعُ الْيَدِ
Dan al-Abtar adalah yang terpotong ekornya, dan al-Aqtha' adalah orang yang terpotong kedua tangannya atau salah satunya, dan al-Ajdzam dengan huruf dzal yang bertitik, adalah orang yang terputus tangannya,

وَقِيْلَ اَلذَّاهِبُ الْأَنَامِلِ
dan dikatakan [oleh satu pendapat]: "[al-Ajdzam] adalah orang yang hilang jari jemarinya".

وَقَالَ الْبَرَّاوِيُّ هُوَ عِلَّةٌ مَعْرُوْفَةٌ مِنْ بَابِ التَّشْبِيْهِ الْبَلِيْغِ
Dan telah berkata Syekh Al-Barawiy: "Hal itu merupakan illat [alasan] yang sudah umum, termasuk dari bab at-Tasybiihil Baliigh [penyerupaan yang tanpa menggunakan kalimat penyerupaan]".

Rabu, 18 April 2018

Muqadimah (Bagian 5)


 
فَإِذَا كَتَبْتُمْ كِتَابًا فَاكْتُبُوْهَا أَوَّلَهُ وَهِيَ مِفْتَاحُ كُلِّ ِكِتَابٍِ أُنْزِلَ
Maka apabila kalian menulis sebuah kitab, maka tulislah kalimat basmalah di permulaannya. Dan basmalah merupakan pembuka setiap kitab yang sudah diturunkan [oleh Allah].

وَلَمَّا نَزَلَ عَلَيَّ جِبْرِيْلُ بِهَا أَعَادَهَا ثَلَاثًا
Dan tatkala malaikat Jibril turun kepadaku dengan membawa basmalah, maka ia mengulang [kalimat] basmalah sebanyak tiga kali.

وَقَالَ هِيَ لَكَ وَلِأُمَّتِكَ فَمُرْهُمْ لَا يَدَعُوْهَا فِيْ شَيْءٍ مِنْ أُمُوْرِهِمْ فَإِنِّيْ لَمْ أَدَعْهَا طَرْفَةَ عَيْنٍ مُنْذُ نَزَلَتْ عَلٰى أَبِيْكَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَكَذَا الْمَلَائِكَةُ
Dan ia [Jibril] berkata: "Basmalah itu untukmu, dan untuk umatmu, maka perintahkanlah mereka, jangan mereka meninggalkan basmalah di sesuatu pun dari berbagai urusan mereka, karena sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkan kalimat basmalah sekejap matapun, semenjak basmalah diturunkan kepada bapakmu, Nabi Adam AS, dan begitupun para malaikat yang lain".

وَفِيْ رِوَايَةٍ  إِذَا كَتَبْتُمْ كِتَابًا فَاكْتُبُوْا فِي أَوَّلِهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَإِذَا كَتَبْتُمُوْهَا فَاقْرَؤُوْهَا
Dan di dalam riwayat lain [disebutkan]: "Apabila kalian menulis kitab, maka tulislah oleh kalian di awal kitab itu بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, dan apabila kalian telah menulisnya, maka bacalah basmalah itu".

وَرُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ تَخَلَّقُوْا بِأَخْلَاقِ اللهِ
Dan diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda: "Berbudi pekertilah kalian dengan budi-budi pekerti Allah",

وَلَا شَكَّ أَنَّ عَادَتَهُ تَعَالٰى فِي ابْتِدَاءِ كُلِّ سُوْرَةٍ الْإِتْيَانُ بِالْبَسْمَلَةِ سِوٰى بَرَاءَةَ فَنَحْنُ مَأْمُوْرُوْنَ بِهِ
Dan tidak ada keraguan bahwa kebiasaan Allah Ta'ala dalam memulai setiap surat itu adalah mendatangkan dengan [diawali] basmalah, kecuali surat Bara'ah [At-Taubah], maka kita diperintahkan dengannya.

وَعَمَلًا بِحَدِيْثِ أَبِيْ دَاوُوْدَ وَغَيْرِهِ كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَايُبْدَأُ فِيْهُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ أَوْ أَقْطَعُ أَوْ أَجْذَمُ
 Dan karena mengamalkan hadis Imam Abu Daud dan lainnya: "Segala perkara yang memiliki suatu hal penting yang tidak dimulai perkara itu dengan بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, maka perkara itu [laksana makhluk yang] terpotong ekornya, atau terpotong tangannya, atau terpotong ujung jarinya [kurang sempurna]".